Prof.  Hariyono kepala BPIP didampingi Irene camelyn Sinaga direktur Pembudayaan BPIP saat berdiskusi di Omah Ngopi Cempluk

Prof. Hariyono kepala BPIP didampingi Irene camelyn Sinaga direktur Pembudayaan BPIP saat berdiskusi di Omah Ngopi Cempluk



MALANGTIMES - Omah Ngopi cempluk milik Redy Eko Prasetyo, pendiri Jaringan Kampung Nusantara hari ini, Minggu (17/2/2019) kedatangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), diwakili Plt, Kepala BPIP Profesor Hariyono.

Kedatangan BPIP di Omah Ngopi yang terletak di kampung cempluk jalan Dieng Atas desa Sumberjo Kalisongo, Dau Kabupaten Malang ini disambut positif oleh Redi dan Karang Taruna Kalisongo. Dalam kunjungannya, Redy memperkenalkan geliat - geliat yang ada di kampung Cempluk tersebut. Disana, Hariyono disuguhi kopi dan melakukan diskusi santai dengan Redy dan perwakilan karangtaruna Kalisongo.

Prof. Hariyono mengatakan bahwa ia ingin belajar serta menggali paktik Pancasila yang dilakukan oleh komunitas kampung yang ada di Malang Raya. Dalam kunjungannya, ia menuturkan bahwa ia banyak menemukan praktik yang dilakukan oleh masyarakat kampung berupa kerja sama untuk bergotong royong. Sedangkan gotong royong sendiri merupakan roh dari Pancasila.

"Setelah kita mendatangj beberapa kampung, ternyata ada yang paling mencolok adalah kerja sama atau gotong royong, sedangkan roh utama dari Pancasila gotong royong itu tadi," ujar Hariyono.

Ia menuturkan bahwa dengan adanya peradaban asing yang saat ini sudah banyak dan mulai menggeser dan mengurangi kepercaya dirian masyarakat kampung. Namun, dengan gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat kampung tersebut, maka nilai budaya akan bangkit dan terawat sehingga sifat percaya diri yang dimiliki oleh orang kampung tidak akan tergeser oleh budaya peradaban asing.

Kemudian, ia menjelaskan bawa gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat kampung di Indonesia dapat mengurangi berbagai macam tindak kriminalitas. Selain itu, Hariyono menjelaskan bahwa dengan masyarakat kampung dan komunitas kampung yang rukun dengan gotong royongnya yang besar, maka permasalahan bangsa akan terselesaikan tanpa harus menunggu adanya pidato pancasila untuk menyelesaikannya.

"Jika kedaulatan budaya dan kedaulatan lainnya mampu dilakukan oleh komunitas kampung, maka problem kebangsaan kita sebagian sudah terselesaikan dengan sendirinya tanpa harus menunggu pidato Pancasila," kata Hariyono

Sementara itu, ia menuturkan bahwa selain nilai gotong royong yang tertanam dalam masyarakat Indonesia, ke depannya untuk diharapka para remaja agar menjadikan pancasila sebagai cita - cita. Bukan menjadikan tujuan bangsa asing sebagai cita - cita masyarakat Indonesia.

"Jangan memposisikan pancasila hanya sebagai meja statis yang menyatukan bangsa kita, namun sebagai bintang penuntun atau cita - cita. Bukan cita - cita yang dimiliki bangsa lain," Jelasnya.

BPIP tak hanya mengunjungi kampung cempluk saja, namun juga mengunjungi beberapa kampung budaya seperti Kampung Budaya Polowijen Kampung Tunggul Wulung, Kampung Tani, Kampung Jabung, Kampung Dilem Gondowangi. Kunjungan kampung-kampung budaya yang ada di Malang akan dilaksanakan selama dua hari. Selain itu, tujuan dari BPIP mengunjungi kampung-kampung budaya untuk menggali potensi yang ada di kampung tersebut.

 

End of content

No more pages to load