Focal point JIP Malang Nurika Wandari. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Focal point JIP Malang Nurika Wandari. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Tingginya jumlah penderita HIV/AIDS di Jawa Timur (Jatim) membuat Kota Malang menjadi jujukan pasien berobat. Terlebih dengan adanya RSUD dr Syaiful Anwar (RSSA) yang menjadi pusat rujukan pasien hampir separo wilayah Jatim. Sayangnya, belum ada shelter yang menjadi persinggahan para pasien dari luar kota itu.

Kebutuhan akan shelter tersebut menjadi salah satu isu penting dalam dialog antara sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli HIV/AIDS yang difasilitasi oleh Jaringan Indonesia Positif (JIP) di Kota Malang. "Pasien-pasien dari luar daerah itu kesulitan kalau mencari penginapan. Kalau ketahuan statusnya penderita HIV/AIDS biasanya langsung ditolak," ujar Imam, salah satu aktivis.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Malang Iwan Subagyo mengungkapkan hal senada. Di sejumlah daerah, keberadaan shelter yang dibangun swadaya oleh komunitas pasien atau LSM kerap mendapat penolakan dari masyarakat. "Kalaupun ada shelter yang dibangun sendiri, biasanya ditolak. Sebab,  stigma di masyarakat, penyakit HIV/AIDS ini mudah menular. Padahal jika masyarakat sudah teredukasi, kekhawatiran itu tidak perlu muncul," ujarnya.

Sementara itu, focal point JIP Malang Nurika Wandari mendorong pemerintah daerah (pemda) baik dari Kota Malang maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim bisa memfasilitasi pembangunan shelter itu. "Yang sangat dibutuhkan saat ini memang shelter, biar tidak terlalu jauh saat berobat. Pasien dari kalangan menengah ke bawah kesulitan jika harus tek-tok (pulang pergi) saat berobat," ujar Rika, sapaan akrabnya.

Selain bisa untuk tempat singgah, lanjut Rika, shelter tersebut juga memiliki banyak fungsi. Misalnya sebagai pusat informasi, terutama bagi pengidap-pengidap baru yang masih membutuhkan pendampingan. "Juga bisa dimanfaatkan untuk akademis. Mahasiswa kedokteran, psikologi, dan lain-lain yang fokus ke masalah HIV/AIDS ini masih kesulitan jika membutuhkan koresponden," ucapnya.

"Shelter ini nantinya juga akan membuat masyarakat lebih aware (peduli). Karena selama ini pasien jumlahnya terus meningkat, padahal secara global dan nasional, program pemberantasannya digencarkan. Berarti ada masalah, salah satu faktornya karena kurangnya edukasi bagi masyarakat," sambung dia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, sejak tahun 2005 hingga sekarang ditemukan sekitar 4.300 kasus HIV/AIDS. Sementara untuk tahun 2018 saja, ada sebanyak 508 kasus pengidap positif HIV/AIDS.

Jawa Timur jadi provinsi tempat penyebaran HIV/AIDS tertinggi kedua di Indonesia. Tercatat jumlah penderita HIV di Jatim mencapai 43.399 orang sejak 1987 hingga 2018 di bawah DKI Jakarta yang tercatat 55.099 orang. Sementara itu, jumlah penderita Aids mencapai 19.315 orang di bawah Papua yang tercatat 22.376 orang.

End of content

No more pages to load