Focal point JIP Kota Malang Rica Wanda (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

Focal point JIP Kota Malang Rica Wanda (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).



MALANGTIMES - Layanan kesehatan bagi penderita HIV atau orang dengan HIV positif dinilai diskriminatif. Sebab, masih terjadi penolakan terhadap pasien HIV yang hendak berobat lantaran tak semua rumah sakit ataupun klinik yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan.

Hal itu disampaikan focal point JIP Kota Malang, Rica Wanda dalam forum kunjungan dan pertemuan untuk mitra Media yang digelar Jaringan Indonesia Positif (JIP), Sabtu (16/2/2019) di Rumah Makan Kertanegara.

Rica menyampaikan, di Kota Malang total ada lima pusat pengobatan yang bisa menerima pasien dengan HIV. Yakni RSUD dr Syaiful Anwar, RS Islam Malang Unisma, RS Tingkat II dr Soepraoen, Puskesmas Dinoyo, dan Puskesmas Kendalsari.

"Karena sesuai aturan, hanya rumah sakit yang ditunjuk Kementerian Kesehatan saja yang bisa menerima rujukan pasien HIV," katanya kepada wartawan.

Sejauh ini, proses pengobatan orang dengan HIV di Kota Malang ,menurut dia, memang jarang ditemui masalah. Namun  secara nasional, belum lama ini pengadaan obat bagi pasien HIV sempat bermasalah. Yaitu sempat terjadi kekurangan obat karena pemerintah gagal melakukan lelang.

"Padahal obat-obatan menjadi kebutuhan utama bagi pasien HIV. Setiap hari pasien HIV harus mengkonsumsi obat lantaran itu menjadi keharusan dan kebutuhan," imbuh Rica.

Lebih jauh, dia menyampaikan, bukan hanya diskriminatif pada proses pengobatannya. Pengetahuan masyarakat umum terhadap penderita HIV sejauh ini masih banyak salah kaprah. Sebab,  orang dengan HIV positif sering dipandang sebagai momok yang menakutkan.

Padahal, lanjutnya, HIV merupakan jenis penyakit yang sama dengan penyakit lain seperti kencing manis salah satunya. Penderitanya memiliki kesehatan fisik yang bagus sehingga membutuhkan obat-obatan yang bisa dikonsumsi setiap hari. "Dan selama ini orang dengan HIV positif sering kali didiskriminasi karena masyarakat takut tertular," tambahnya lagi.

Rica menjelaskan, penularan virus HIV sama sekali tidak seperti yang dibayangkan masyarakat seperti sekarang. Berkomunikasi dan melakukan kontak sosial dengan para penderita HIV sama sekali tidak akan membuat seseorang tertular.

"Bersentuhan dan ngobrol sama sekali tidak berpengaruh dan tidak menyebabkan seseorang tertular. Soalnya, penularannya itu adalah melalui cairan," jelasnya lagi.

Menurut Rica, penularan virus HIV melalui air liur tidak mudah seperti saat berciuman dengan orang yang terpapar HIV.  Pasalnya, membutuhkan banyak bahkan bergalon-galon air liur untuk bisa terpapar virus HIV.

"Diskriminasi terhadap penderita HIV ini juga yang harus kembali disadarkan agar masyarakat tidak memandang sebelah, dan penderita HIV tidak takut berobat," urai Rica.

Bahkan,  diskriminasi terhadap orang dengan HIV positif selama ini menurutnya banyak memunculkan kerugian bagi pasien HIV itu sendiri. Di antaranya kasus terbaru dikeluarkannya siswa yang positif HIV di salah satu sekolah di Solo.

Bahkan, tak jarang orang dengan HIV selama ini susah mendapatkan pekerjaan. Angka perceraian karena HIV juga tak sedikit. Itu lantaran kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang HIV masih sangat minim.

Dalam forum yang juga diikuti oleh berbagai lembaga dan komunitas pemerhati HIV itu pun diharapkan agar Pemerintah Kota Malang lebih konkret dalam membuat regulasi yang lebih pro terhadap penanganan pasien penderita HIV positif. 

End of content

No more pages to load