Tersangka Dedi saat memberi keterangan kepada Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi. (eko Arif s / JatimTIMES)
Tersangka Dedi saat memberi keterangan kepada Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi. (eko Arif s / JatimTIMES)

MALANGTIMES - Cinta memang sesuatu yang penuh misteri, bahkan ada istilah cinta buta yaitu cinta yang tak pandang usia, tak pandang latar belakang dan tak pandang alasan.

Seperti halnya kisah cinta Dedi Asmawan (26) dengan Sukinem (75) alias Mbah Mentil. Kisah cinta kedua insan yang terpaut usia yang sangat jauh, berawal sejak perkenalan mereka 2013 lalu.

Setelah perkenalan, selang 10 hari mereka melakukan hubungan badan di tempat kost Mbah Mentil di sekitar Pasar Setonobetek, Kota Kediri. Dan selanjutnya terus berlanjut. Dalam menjalin asmara, keduanya sering memadu kasih layaknya Romeo dan Juliet.

Dedi melakukan hubungan badan dengan Mbah Mentil paling sedikit 3 kali dalam sebulan. Sayang, cinta terlarang yang terjalin sejak 2013 itu berujung maut, sang kekasih yang pantas menjadi neneknya itu tewas dibunuh oleh kekasihnya sendiri.

Kasus cinta terlarang beda usia ini akhirnya berujung maut. Pembunuhan tersebut terjadi pada 28 Januari 2019. Selama hampir dua minggu polisi berusaha mengungkap mesteri ini. Hingga pada hari Rabu (13/2/19) polisi berhasil menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik pembunuhan itu.

Motif pembunuhan itu dilakukan setelah  melakukan hubungan intim dengan korban. Dedi bermaksud meminta uang pada Mbah Mentil untuk menebus BPKB. Karena Mbah Mentil tidak mau memberi, oleh tersangka perhiasan miliknya diambil paksa .

Saat kejadian tersebut korban berusaha teriak, oleh tersangka mulut korban dibungkam/disumpal memakai jilbab korban dan lehernya dicekik dengan kedua tangannya hingga korban meninggal dunia.

Dalam menjalankan aksinya Dedi dibantu temannya yang bernama Ahmad Setiawan (25) seorang kuli bangunan yang juga masih tetangganya.

Malam itu, Dedi mengaku kebablasan. Ia sebenarnya tak ingin membunuh korban, dan hanya ingin mengambil perhiasan serta uang korban yang disimpan di lipatan jarit di bagian perut korban. Namun diduga ada perlawanan dari Mbah Mentil sehingga ia nekat menghabisinya. “Saat itu tidak sengaja, kebablasan,” kata Dedi lirih saat rilis di Mapolresta Kediri, Kamis (14/2/19).

Yang lebih ironi lagi , Ahmad, teman Dedi ternyata lebih dulu pernah memacari korban sebelum tahun 2013. Ahmad kemudian menyerahkan korban untuk dipacari oleh Dedi, sekitar tahun 2013 lalu. Artinya kedua pelaku sama-sama pernah menjalin asmara dengan Mbah Mentil, seorang pengumpul barang bekas.

Menurut keterangan Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi mengatakan, bahwa pelaku yang juga pacar gelapnya, sebelum korban dibunuh, sempat melakukan hubungan intim. Hal itu pada saat dilakukan olah TKP ada bercak bekas sperma korban. Dari situlah dimulai penyelidikan bahwa pembunuhnya seseorang yang telah dikenal oleh Korban.

“Sehabis melakukan hubungan intim, dari keterangan pelaku, korban langsung dihabisi dengan cara dicekik lehernya hingga tewas, dan mulut disumpal dengan kain serta tangan diikat,“ bebernya.

Kapolres menambahkan, kemudian kedua pelaku membawa lari harta benda milik korban diantaranya dua gelang dan dua cincin beserta uang sebesar Rp 1.600.000 dan dibagi rata.

"Kedua pelaku kita tangkap di rumahnya masing-masing. Saat akan dilakukan penangkapan, Dedi mencoba melarikan diri. Sehingga, petugas harus melumpuhkan tersangka Dedi dengan timah panas di bagian kaki kanannya. Motif tersangka yaitu ingin menguasai hartanya," imbuhnya.

Atas perbuatannya, pelaku terancam dijerat pasal 339 KUHP subsider 338 KUHP atau Pasal 365 ayat (3) KUHP tentang tindak pidana pembunuhan yang disertai dengan tindak pidana lain (pencurian) atau tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan matinya orang dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.

Sementara itu, melihat kasus yang dialami Dedi dan Sukinem, menurut Psikolog Wahyu Utami, M.Si, M.Psi yang juga Dosen Psikologi Fakultas Dakwah Jurusan Psikologi Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo menjelaskan, perilaku menyimpang yang dilakukan Dedi ada kecenderungan dengan Oedipus Complex. Biasanya pria-pria seperti ini justru kurang begitu tertarik dengan wanita yang umurnya lebih muda.

"Ciri-ciri Oedipus Complex itu pria cenderung mencari pasangan wanita yang menyerupai dengan sosok ibunya. Bisa juga misalnya pria menyukai wanita yang umurnya lebih tua, bahkan seumuran dengan ibunya.  Seperti  kasus yang dialami Dedi yang menjalin hubungan asmara dengan Sukinem 75 tahun, yang usianya terpaut 49 tahun," kata Wahyu Utami kepada KEDIRITIMES.

Wahyu Utami menjelaskan, bahwa kecenderungan ini muncul karena pola asuh ibu yang protektif terhadap anaknya. Oedipus Complex muncul ketika anak memiliki kelekatan yang teramat kuat dengan ibunya.

"Tidak ada batasan pasti berapa selisih umur yang bisa dijadikan sebagai patokan untuk menentukan sesorang dianggap oedipus complex atau tidak. Yang jelas, kecenderungan seorang pria menyukai wanita yang lebih tua tidak selalu berkonotasi negatif," tandasnya.