Proses pembuatan celana dan jaket denim di Workshop Studio Uranium Milik Fachron Yulistianto (foto : Luqmanul Hakim/Malang Times)

Proses pembuatan celana dan jaket denim di Workshop Studio Uranium Milik Fachron Yulistianto (foto : Luqmanul Hakim/Malang Times)



MALANGTIMES - Busana berbahan denim atau biasa disebut jeans, merupakan busana yang berasal dari Amerika. 

Dulunya, Jeans ini hanya digunakan untuk pegawai tambang saja. 

Namun, saat ini jeans sudah menjadi salah satu tren fashion yang banyak digemari di seluruh dunia.

Di Kota Malang sendiri, ada sebuah perajin Jeans yang hasil buatannya sudah mendunia. 

Dengan merek Iron clade denim milik Fachron Yulistianto atau iron, merupakan sebuah merek jeans dengan berkonsep bahan premium nomor satu yang sudah di pasarkan ke 22 negara di dunia.

Dibuat bersama dengan 4 orang pegawainya di Workshop Studio Uranium yang terletak di jalan Uranoum kelurahan Purwantoro, Kota Malang, Iron mengatakan bahwa Jeans buatannya sudah beredar di 22 negara di 3 benua, Amerika, Eropa dan Asia.

"Kita buat dengan konsep premium, sudah dipasarkan di Indonesia dan 22 negara di Amerika, Eropa, dan Asia" ujar Iron saat ditemui Kamis (14/2/2019).

Kemudian, ia menuturkan bahwa bahan yang ia gunakan sendiri menggunakan bahan berupa Handmade yang sudah bekerja sama dengan pabrik penenun di Pekalongan dan bahan jeans dari luar negeri seperti Thailan dan Jepang.

Penggunaan bahan dari Thailand dan Jepang tersebut, ia jelaskan karena bahan yang digunakan merupakan bahan terbaik di dunia, yaitu katun Zimbabwe serta tehnik tenunan yang berbeda. 

Bahan premium yang ia gunakan merupakan berbahan kain premium seperti kain Japan Collab, kain Kaihara, kain Atlantic Mills Company dan lain sebagainya.

Sepintas memang tak terlihat ada yang istimewa di tempat Iron ini, namun saat masuk ke dalam, kita akan dibiat terkejut dengan isinya. 

Tak hanya menggunakan bahan jeans premium saja, iron juga memiliki mesin jahit yang usianya sangat tua dan sudah lebih dari 100 tahun yang di buat tahun 1900 dengan merek Union model Black Mesin. 

Ia menuturkan bahwa penggunaan mesin jahit yang vintage juga menentukan harga jual jeansnya.

"Kalo denim itu, semakin Vintage mesin yang di pakai, semakin mahal harga jeansnya" ujar Iron.

Iron memulai usahanya ini sejak tahun 2008 berupa konfeksi yang kemudian di tahun 2014 mulai menggunakan bahan khusus ptemium saja.

Setelah itu, di tahun 2014, ia berkolaborasi dengan orang Belanda dan sejak itulah ia mulai memasarkan produknya di luar negeri.

"Tahun 2008 saya mulai usaha konveksi, terus 2010 mulai saya gunakan khusus bahan premium, kemudian 2014 saya kolaborasi dengan orang Belanda untuk pasarkan di luar negeri" jelasnya.

Ia menuturkan pernah menjual celana jeans dengan harga termahal yang dibandrol 250 dolar Amerika atau sekitar Rp 3,5 juta yang pernah ia kirim ke Eropa, sedangkan untuk di Indonesia sendiri ia pernah menjual sekitar Rp 1,6 juta yang ia kirim ke Jakarta pada penjualan termahalnya untuk sebuah celana jeans buatannya sendiri.

Dalam satu bulan, ia mengatakan mampu membuat sekitar 50 hingga 100 biji denim. 

Selain itu, ia juga membuat denim dengan bahan non premium serta beberapa aksesoris berbahan denim. 

Untuk harganya sendiri ia bandrol sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 jutaan untuk bahan premium Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu untuk bahan non premium dan aksesoris berbahan denim seperti gantungan kunci dan tas dibandrol Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu.

Selain itu, iron juga menuturkan bahwa ia merupakan satu - satunya pembuat jeans berbahan premium yang ada di Jawa Timur. 

"Di Jawa Timur cuma ada satu yang pakai denim premium, ya di Malang saya ini" pungkasnya.

End of content

No more pages to load