Polisi mengamankan BB penipuan di Polres Blitar Kota.(Foto : Ist)

Polisi mengamankan BB penipuan di Polres Blitar Kota.(Foto : Ist)



MALANGTIMES - Calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar Kota Blitar bernama Yanuar Febrianto (25) diringkus polisi karena melakukan penipuan mobil. Warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, itu ditangkap di Surabaya bersama teman wanitanya. Dari penangkapan ini, polisi mengamankan barang bukti satu unit Nissan Grand Livina milik korban.

Sebelumnya Yanuar dilaporkan oleh korban bernama Rizki Mahendra (31), warga Surabaya, karena melakukan penipuan mobil Grand Livina dan Honda CRV.  Selain Rizki, Yanuar juga dilaporkan satu korban lainya. 

"Pelaku suduah kami tahan. Sebelumnya pelaku sempat mangkir dari panggilan sebagai saksi hingga kemudian kami mengeluarkan surat pangilan paksa, tetap tak ada jawaban. Hingga akhirnya pelaku berhasil diamankan di Surabaya," ungkap Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono, Rabu (13/2/2019).

Diduga masih ada sejumlah korban lain yang belum melapor ke polisi. Hal ini diketahui dari percakapan di handphone milik pelaku. "Kami masih mengembangkan kasus ini karena diduga masih ada korban lain," imbuhnya.

Heri Sugiono menambahkan, dalam pemeriksaan ,pelaku mengaku bekerja sebagai wiraswasta. "Pekerjaannya swasta. Terkait itu (caleg), kami belum tahu pasti," paparnya. 

Informasi yang berkembang menyebutkan  bahwa Yanuar adalah caleg DPRD Kota Blitar dapil Sukorejo dari Partai Golkar. Saat dikonfirmasi,  Ketua DPD Golkar Kota Blitar Moh. Hardi Usodo membenarkan hal ini. 

Menurut Hardi, Yanuar memang merupakan caleg Partai Golkar nomor urut empat untuk dapil Kecamatan Sukorejo. Pihak partai mengaku sudah mendengar kabar kasus penipuan yang dilakukan Yanuar. Namun, partai belum bisa mengambil sikap karena belum ada putusan pengadilan. 

"Iya, saya juga sudah mendengar kabar tersebut. Tapi kami belum bisa mengambil sikap ke depanya seperti apa karena belum ada keputusan yang sifatnya inkrah. Namun kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah," ungkap Hardi.

Sementara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Blitar belum menerima laporan terkait caleg DPRD Kota Blitar yang ditangkap polisi karena terlibat kasus penipuan. Namun, komisioner divisi teknik KPU Kota Blitar Mashudi mengatakan, apabila memang ditemukan caleg meninggal dunia dan terlibat tindak pidana yang sudah inkrah, memang bisa membatalkan pencalonan. Namun harus melalui mekanisme pelaporan. 

"Sejauh ini belum ada laporan, baik dari masyarakat maupun dari partai politik pengusung terkait caleg yang dimaksud," ungkap Mashudi.

Mashudi mengatakan, jika benar ada caleg yang terlibat tindak pidana, seharusnya parpol pengusung segera melaporkan ke KPU. Sehingga KPU segera melakukan klarifikasi terhadap caleg yang bersangkutan. 

"Secara mekanisme belum ada laporan dari partai. Jika benar ada kejadian seperti itu, seharusnya partai laporan untuk diproses dan dilakukan klarifikasi," tambah dia. 

Mashudi menambahkan, kalaupun terbukti ada caleg yang terlibat tindakan pidana! tidak akan mengubah surat suara. Ia mencontohkan Ketua DPRD Kota Blitar Glebot Catur Arijanto yang meninggal dunia namun namanya tetap akan tercantum pada surat suara. Namun, jika ada yang memilih dia, nantinya suara akan masuk ke parpol.

"Tidak akan mengubah surat suara. Contohnya seperti Pak Glebot yang sudah meninggal. Kalau pada saat pemilihan mendapatkan suara, nanti suaranya ke parpol," jelasnya.

End of content

No more pages to load