Literasi Keuangan di Kabupaten Malang Rendah

Feb 13, 2019 14:00
Ilustrasi OJK (Ist)
Ilustrasi OJK (Ist)

MALANGTIMES - Berbagai data mengenai literasi keuangan mencatat, bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya di Jawa Timur (Jatim) masih terbilang rendah.

Global Fintech mencatat literasi keuangan di Indonesia hanya sekitar 48 persen dengan akses pengguna produk dan jasa keuangan sekitar 45 juta jiwa. 

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

Sedangkan data di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang tingkat literasi keuangan di Jatim mencapai 75 persen. 
Di Kabupaten Malang, literasi keuangan pun terbilang rendah yaitu sekitar 35 persen. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Widodo.

"Berkaca pada literasi keuangan di Indonesia sampai Kabupaten Malang, pengetahuan masyarakat mengenai produk jasa keuangan harus lebih ditingkatkan," kata Widodo beberapa waktu lalu.

Rendahnya literasi keuangan tersebut, masih menurut Widodo didasarkan perbandingan dengan negara-negara ASEAN yang rata-rata mencapai 80 persen.

Rendahnya literasi keuangan tersebut bisa berefek negatif terhadap masyarakat. Khususnya bagi masyarakat terkait investasi bodong yang kerap membuat masyarakat terkena kerugian materi terbilang besar.

"Karena itu pengetahuan tentang hal tersebut menjadi penting. Karena masih banyak masyarakat menggunakan jasa keuangan, tapi belum memahami produknya," ujar Widodo.

Rendahnya literasi keuangan masyarakat, setiap tahunnya mengalami peningkatan pemahaman. Hal ini didasarkan pada minat masyarakat mempergunakan produk jasa perbankan. 

Berdasarkan data OJK Malang, mulai tahun 2013 lalu, nasabah yang menggunakan produk jasa perbankan mencapai 59,7 persen. Meningkat, walau tidak terlalu tinggi di tahun 2016, yakni mencapai 67,8 persen.

Selain hal tersebut, minat masyarakat terhadap transaksi keuangan melalui pegadaian pun terbilang tinggi. Dimana, masyarakat memiliki minat tinggi terhadap pegadaian swasta.

Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19

Widodo mengatakan, satu sisi minta masyarakat atas pegadaian swasta yang lebih tinggi dibandingkan pegadaian persero, menggembirakan. Tapi di sisi lainnya diperlukan kemampuan literasi keuangan yang baik. Agar tidak terjebak atau mengalami persoalan keuangan dikemudian hari.

"Pegadaian swasta diminati, tapi masih banyak yang belum berizin atau tidak memiliki legalitas. Hal ini patut jadi catatan masyarakat," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, baru ada 11 pergadaian swasta yang sudah terdaftar dan memiliki izin yang jelas di Kabupaten Malang dan Kota Malang. Sedangkan lainnya masih sulit diidentifikasi. Baik jumlah, lokasi pegadaian sampai pada legalitas resminya.

"Sulit diketahui karena terkadang kantornya hanya rumah. Begitu pula legalitasnya. Karena itu kita akan terus melakukan penertiban dan menyarankan agar segera mengurus izin di OJK. Pun dalam peningkatan literasi keuangan," ucap Widodo.

Kondisi inilah yang dikhawatirkan bila masyarakat rendah pengetahuan literasi keuangannya, seperti di Kabupaten Malang. Peluang tersebut bisa melahirkan terjadinya penipuan keuangan. Karenanya pihak OJK mengingatkan masyarakat saat akan memilih produk keuangan.

"Jangan sampai tertipu produk investasi bodong. Bila tidak tahu atau masih ragu, silahkan akses website resmi kita atau telepon bebas pulsa OJK," ucapnya yang menyebut alamat website resmi OJK yakni ojk.co.id atau melalui telepon ke saluran 157 bebas pulsa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Berita MalangRendahnya literasi keuanganLiterasi KeuanganGlobal FintechOtoritas Jasa Keuangan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru