Mendagri Tjahjo Kumolo (Humas Pemkot Malang for MalamgTIMES).

Mendagri Tjahjo Kumolo (Humas Pemkot Malang for MalamgTIMES).



MALANGTIMES - Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko menegaskan jika 92,40 persen hoax diproduksi oleh sosial media. 

Hal itu ia sampaikan pada acara Rapat Koordinasi Biro/Kabag Humas dan Hukum se Indonesia yang dihelat oleh Kemendagri di Hall Bidakara Hotel Jakarta, Senin (11/2/2019).

Melalui keterangan tertulis yang diterima MalangTIMES, Moeldoko menjelaskan tingkat berita hoax yang ada pada media mainstream seperti media cetak hanya 5 persen, radio 1,2 persen dan televisi 8,7 persen.

"Artinya masyarakat kita sedang terjangkiti 'virus jari' yang susah dikontrol," katanya.

Bagaimana tidak, lanjutnya, hanya dengan jari kebenaran bisa dijungkirbalikkan. 

Kebohongan diproduksi secara masif hingga dipahami seakan fakta dan kebenaran.

"Itu tantangan yang harus dihadapi para pelaku humas," demikian tegas mantan Panglima TNI tersebut.

Sementara itu, Mendagri Tjahjo Kumolo menambahkan, politik uang, politisasi SARA, hoax, fitnah dan kampanye negatif adalah racun demokrasi sehingga mutlak harus dilawan.

"Saya ajak ada kesatuan gerak,  kesamaan misi antar Humas Kementerian, kelembagaan dan Pemerintah Daerah.  Selain terus membangun narasi tentang daerahnya masing masing,  saya juga minta humas untuk memperhatikan narasi besar (kebijakan dan program program Pemerintah Pusat; red)," sambung Tjahjo.

Lebih jauh, baik Moeldoko maupun Tjahjo mengingatkan jika informasi kini banyak tidak tersaring. Karena ketika sudah ditentukan oleh jari (revolusi jari), maka kebenaran susah dikontrol.

Bahkan pembenaran lebih dikedepankan daripada kebenaran. Sehingga para humas diimbau tidak membiarkan masyarakat makin tenggelam.

Selain Kepala Staf Presiden dan Mendagri, ikut memberikan materi dalam rakor adalah Menkominfo Rudiantara, Ketua Komisi II DPR RI, Zainuddin Amali,  Ketua KPU Arif Budiman, Ketua Bawaslu dan Dirjen Kependudukan Kemendagri.

Dalam pemaparannya tentang strategi penanganan konten internet negatif, Menkominfo Rudiantara menekankan pentingnya mendorong literasi digital kepada masyarakat.  

Karena dunia digital tidak dapat dihindari. Untuk menghadapi hoax, maka pemerintah harus mendorong terlebih dahulu aspek membangun literasi (up stream). 

Meskipun tentu tetap ada langkah pemeriksaan konten dan issue (mid stream) serta langkah penegakan hukum (down stream).

"Untuk mengedukasi masyarakat, saya sudah perintahkan diskominfo dan sekarang jajaran humas untuk menginfokan  berita hoax,  biar masyarakat tahu bahwa berita itu tidak benar," katanya.

Jadi, lanjutnya, jangan dibiarkan bebas dikonsumsi masyarakat, harus difahamkan itu hoax dan tidak benar.  Bahkan dalam kesempatan itu telah diluncurkan Miss Lambe Hoax.  

"Masyarakat bisa search dan membuka situs tersebut (Miss Lambe Hoax; red), dan di dalamnya diinformasikan beberapa catatan kabar yang bersifat hoax-hoax," imbuhnya.

Sementara itu, Kabag Humas Kota Malang Widianto yang hadir pada acara rakor merespons secara konstruktif catatan rakor. Terutama terkait pesan agar setiap daerah memiliki cyber patrol.

"Dan kiranya itu juga telah ditegaskan Pak Wali (Wali Kota Malang Sutiaji; red) yang telah memiliki 'cyber army', untuk mendeteksi dan merespons secara cepat aduan yang masuk. Bahkan yang masuk platform sosmed akun Pak Wali langsung dialirkan ke Kepala OPD," info pria yang akrab disapa Wiwid itu. 

End of content

No more pages to load