Ketiga oknum wartawan gadungan saat diamankan polisi karena kasus pemerasan, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Ketiga oknum wartawan gadungan saat diamankan polisi karena kasus pemerasan, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



MALANGTIMES - Dunia jurnalistik kembali dicederai oleh oknum yang tidak bertangungjawab. Adalah Moh Suyuti (48) warga Desa Sumberkradenan, Kecamatan Pakis, Yanto (31) warga Dusun Krajan, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, dan Ahmad Dahri (40) warga Kecamatan Tambaksari, Surabaya.

Ketiga wartawan gadungan ini, diringkus polisi karena kasus pemerasan. Korbannya adalah Winarno warga Jalan Wijaya Kusuma, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis. Seorang Plt Kepala Sekolah sekaligus guru di SD (Sekolah Dasar) Negeri 03 Asrikaton ini, mengalami pemerasan hingga jutaan rupiah.

“Modus ketiganya mengaku wartawan kepada korbannya. Tersangka berdalih mengajukan proposal untuk menutup kasus salah satu siswa yang terluka karena gunting. Jika tidak, pelaku mengancam akan menayangkan lewat pemberitaan, dan bisa mengakibatkan korban dipecat,” kata Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, Jumat (8/2/2019).

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, saat melancarkan aksinya, selain mengaku sebagai wartawan mereka juga memperkenalkan diri sebagai anggota dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dimana tersangka Moh Suyuti mengaku dari anggota  media Radar Nasional, Angota Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI), sekaligus anggota media Seputar Malang.

Sedangkan Yanto, mengaku sebagai anggota PWRI. Terakhir, tersangka atas nama Ahmad Dahri mengaku sebagai Kepala Bidang (Kabid) pendidikan dan pelatihan profesi dari media lensa. Selain itu, pelaku juga mengaku anggota dari Aliansi Wartawan Seluruh Indonesia (Awasi).

“Kami masih melakukan pendalaman. Apakah media dan LSM yang melibatkan tiga oknum wartawan ini legal dan memiliki badan hukum yang jelas,” sambung perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu ini.

Selain mengamankan ketiga tersangka, petugas juga menyita beberapa barang bukti. Diantaranya uang hasil pemerasan senilai Rp 2 juta dengan pecahan Rp 50 ribu, dua surat tugas Pemantau Keuangan Negara (PKN), serta empat kartu pers.

Dari pendalaman wartawan, dalam surat tugas yang digunakan tersangka, tertulis tiga dasar hukum. Yakni Undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik, Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi, dan PP nomor 43 tahun 2018 tentang peran serta masyarakat dalam pemberantasan korupsi.

Diperoleh keterangan, tragedi pemerasan terjadi pada 31 Januari lalu. Ketika itu, ketiga pelaku mendapat informasi jika ada salah satu siswa SDN 03 Asrikaton yang mengalami luka karena terkena gunting.

Berawal dari sinilah, ketiganya lantas mengkonfirmasi ke pihak sekolahan. Disela-sela perbincangan, mereka melakukan tindakan pemerasan. Korban diancam dan “ditodong” uang sejumlah Rp 7,5 juta, demi menutup kasus agar tidak di beritakan.

Tim Saber Pungli Polres Malang yang mendapat informasi, kemudian bergegas ke lokasi kejadian. Saat itu korban mengeluh karena terus didesak pelaku agar memenuhi permintaannya.

Hingga akhirnya pada Sabtu (2/2/2019) lalu, beberapa personel dikerahkan untuk melakukan penangkapan. Saat dipancing untuk datang ke ruang kepala sekolah, untuk mendapatkan pencairan sebagian uang. Ketiga tersangka langsung menuju ke lokasi yang sudah disepakati dengan mengendarai sepeda motor. “Tersangka kami amankan saat menerima sejumlah uang senilai Rp 2 juta yang diberikan korban,” sambung Ujung saat sesi rilis.

Anggota Polri nomor satu di Kabupaten Malang ini menambahkan, hingga kini pihaknya masih terus mendalami kasus pemerasan yang melibatkan tiga oknum wartawan tersebut. Sejauh ini, disinyalir tersangka sudah melakukan pemerasan dengan modus yang sama di tiga tempat yang berbeda.

“Akibat perbuatannya tersangka dijerat pasal 368 KUHP tentang pemerasan, dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara,” pungkasnya.

End of content

No more pages to load