Puluhan tersangka yang diamankan dalam giat Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2019 di Kabupaten Malang. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Puluhan tersangka yang diamankan dalam giat Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2019 di Kabupaten Malang. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



MALANGTIMES - Ada kisah memiriskan dari hasil ungkap kasus Oprasi Tumpas Narkoba Semeru 2019 di Kabupaten Malang. Yakni, dalam agenda yang digelar selama 12 hari terhitung sejak 26 Januari ini, petugas kepolisian berhasil mengamankan 90 tersangka dari hasil ungkap 81 kasus.

Parahnya, dari puluhan tersangka yang diamankan, ada fakta yang mencengangkan. Sebanyak tujuh tersangka di antaranya masih tergolong anak dibawah umur. Yakni dengan rentang usia 12 hingga di bawah 18 tahun.

Selain melibatkan anak-anak, kalangan remaja juga marak tergabung dalam jaringan peredaran narkotika. Faktanya, terdapat 51 tersangka yang masuk dalam kategori rentang usia antara 19 hingga 30 tahun. Sisanya, sebanyak 32 tersangka masuk dalam rentang usia di atas 30 tahun. 

“Berdasarkan data yang kami himpun, faktor minimnya pendidikan juga berpotensi terlibat jaringan narkoba,” kata Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, Kamis (7/2/2019).

Ujung menuturkan, dari 90 tersangka yang diamankan, semuanya tidak ada yang mengenyam bangku perkuliahan. Rata-rata para pelaku bisnis haram tersebut hanya mentas dari bangku pendidikan SMA. Yakni sebanyak 38 orang tersangka.

Mirisnya, sebanyak 52 pelaku lainnya hanya mengenyam pendidikan di bangku SD dan SMP. Rinciannya, sebanyak 24 tersangka  tamatan SD dan 28 lulusan SMP. “Biasanya para bandar merekrut usia remaja sebagai pengedar sekaligus kurir narkoba. Sebab, sasaran penjualan narkotika juga menyasar usia pelajar,” terang perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu ini.

Senada dengan yang diterangkan Kapolres Malang, Kepala BNN Kabupaten Malang Letkol Laut (PM) Agus Musrichin menjelaskan, peredaran narkoba memang marak terjadi di kalangan remaja yang masih berstatus pelajar.

Jika melihat data pada dua tahun lalu, jumlah peserta rehabilitasi memang didominasi oleh kalangan remaja. Pada 2018 lalu, total ada 95 peserta yang harus menjalani rehabilitasi. “Dari jumlah tersebut, 51 peserta rehabilitasi berasal dari kalangan pelajar yang berusia di bawah 19 tahun,” pungkasnya.

End of content

No more pages to load