Potensi desa wisata adventure The Jaten Park, Ngebruk, yang membutuhkan sinergitas pemda dan warganya (foto: Nana/ MalangTIMES)
Potensi desa wisata adventure The Jaten Park, Ngebruk, yang membutuhkan sinergitas pemda dan warganya (foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dipacu mengoptimalkan tumbuhnya sektor pariwisata di wilayah perdesaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, terus melakukan pemetaan potensi di berbagai desa.

Pemetaan potensi menjadi kunci dalam terwujudnya desa wisata yang mandiri. Artinya, masyarakat bersama pengelola desa wisata sudah memiliki kesadaran atas sapta pesona pariwisata. Sehingga mampu mengelola potensinya secara maksimal dengan tidak meninggalkan aspek lingkungan, sosial dan budaya yang hidup di lokasi wisata tersebut.

Hal inilah yang menjadi salah satu tugas Disparbud Kabupaten Malang dalam konteks mengoptimalkan pariwisata di wilayahnya. 

Made Arya Wedanthara Kepala Disparbud Kabupaten Malang menyampaikan, pemetaan potensi wisata desa telah mencapai sekitar 130 wilayah. 

"Dari hasil pemetaan potensi tersebut, tugas kita mengarahkannya menjadi desa wisata," kata pria kelahiran Bali, Selasa (06/02/2019).

Proses dalam pembentukan desa wisata inilah yang menurut Made Arya tidak bisa dilakukan secara parsial. Misalnya, hanya dari Disparbud atau pemerintah daerah saja. Keterlibatan masyarakat di lokasi yang akan dijadikan desa wisata tidak bisa dilepaskan.

Sinergitas, begitulah lanjut Made Arya. "Pemerintah daerah bersama masyarakat menjadi satu kesatuan dalam hal ini. Tanpa itu tentunya tidak akan berjalan optimal," ujarnya yang juga menegaskan, bahwa berbicara pariwisata adalah tugas seluruh OPD yang ada.

"Satu sama lain saling terkait. Pariwisata tidak bisa mengandalkan keindahan alam. Tapi butuh pendukung, misal budaya, kerajinan etnik, sampai kuliner. Selain infrastruktur pendukung lainnya," imbuhnya.

Seluruh faktor pendukung itulah yang tidak bisa dilakukan oleh pemerintah daerah sendirian. Masyarakat menjadi nyawa dalam menghidupkan potensi wisata yang ada. Tanpa adanya sinergitas tersebut, maka desa wisata hanya akan ada di angan-angan. Atau diambil alih pihak ketiga yang memiliki modal besar.

Made Arya mencontohkan desa wisata yang telah mandiri. Yakni yang berada Desa Gubuk Klakah, kecamatan Poncokusumo. "Anggota Pokdarwis menemukan topeng yang usianya sudah ratusan tahun. Kemudian topeng itu dikemas dalam sebuah pertunjukan, dan ditampilkan saat ada tamu," terangnya yang juga menyebutkan untuk desa wisata mandiri telah berjalan kurang lebih sebanyak 20-an.

Selain pemetaan potensi bagi terbentuknya desa wisata, Disparbud Kabupaten Malang juga memiliki tugas dalam memfasilitasi pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis inilah yang disebut Made Arya sebagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam sinergitas pembentukan desa wisata.

Pihaknya hanya memfasilitasi serta melakukan berbagai penguatan kesadaran kepada pokdarwis dalam menerapkan sapta pesona pariwisata. Sedangkan penggalian lebih detail dari potensi wisata yang ada dilakukan oleh Pokdarwis dan warga sekitarnya.

"Tanpa itu, maka akan sangat sulit dan dimungkinkan tidak berjalan. Pun, sebaliknya bila masyarakat bergerak. Maka kita lebih mudah melakukan berbagai penguatannya. Salah satunya adalah promosi desa wisata tersebut," pungkas Made Arya.