Tersangka Edi Santoso beserta barang bukti sabu saat diamankan polisi.(Foto : Polsek Turen for MalangTIMES)

Tersangka Edi Santoso beserta barang bukti sabu saat diamankan polisi.(Foto : Polsek Turen for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Edi Santoso, warga Dusun Pandarungan Sukorejo, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, kini harus mendekam di penjara Mapolsek Turen sejak Senin (4/2/2019). Pria 36 tahun itu berurusan dengan polisi setelah terlibat jaringan peredaran narkoba.

Ketika diringkus di kediamannya, pelaku kepergok  usai mengonsumsi narkoba jenis sabu. Selain itu, petugas juga menemukan beberapa barang bukti berupa 11 poket sabu dengan total berat 6,5 gram, seperangkat alat isap, dan satu timbangan elektrik.

“Dari pendalaman penyidik, selain menjadi pengedar, pelaku juga terbukti sebagai pengguna. Selama ini pelaku memasarkan sabu ke berbagai wilayah di Kabupaten Malang,” kata Kanit Reskrim Polsek Turen Iptu Hari Eko Utomo, Selasa (5/2/2019).

Hari membeberkan, terungkapnya kasus ini bermula dari laporan masyarakat jika Edi baru saja menerima kiriman sabu. Bahkan sebagian dari paketan barang haram tersebut juga sempat dikonsumsi oleh tersangka.

Mendapat informasi tersebut, beberapa personel gabungan dari Polsek Turen dan Polres Malang dikerahkan ke lapangan untuk melakukan penyelidikan. Benar saja. Saat digerebek, pelaku kedapatan sedang nge-fly usai mengonsumsi sabu. Bahkan, beberapa barang bukti yang disita polisi tampak berserakan di kamarnya. “Selama ini tersangka masuk dalam target oprasi (TO),” terang mantan KBO reskrim Polres Malang ini.

Kepada penyidik, Edi mengaku jika sabu tersebut dia dapatkan dari seorang temannya yang berinisial SD. Belakangan diketahui, sang bandar yang dimaksud sedang menjalani masa hukuman penjara di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Lowokwaru, Kota Malang.

“Barang yang saya pesan dikirim dengan cara ranjau. Jika paketan sudah saya terima, selanjutnya uang pembelian bakal saya transfer. Nomor rekening biasanya dikirim melalui pesan singkat (SMS),” terang Edi saat dimintai keterangan oleh polisi.

Hingga kini, korps berseragam cokelat ini masih melakukan pengembangan. Selain mengungkap identitas SD, beberapa jaringan lain juga masih terus diburu polisi. “Tersangka dijerat Pasal 114 Juncto 132 Subsider Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika,” tutup Hari.

 

End of content

No more pages to load