Foto ilustrasi (Foto: Doc. MalangTIMES)

Foto ilustrasi (Foto: Doc. MalangTIMES)



MALANGTIMES - Imlek merupakan perayaan yang penting bagi orang Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek dimulai dari hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke-15 atau pada saat bulan purnama.

Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chúxī, yang berarti malam pergantian tahun. Di Tiongkok, adat dan tradisi yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek sangat beragam, mulai dari perjamuan makan malam pada malam tahun baru serta penyulutan kembang api. Berikut ini empat  keunikan tradisi Imlek.

1. Menggantung Lentera Merah
Beberapa keunikan pada tradisi perayaan Imlek yang masih dijalani kaum Tionghoa adalah menggantung lentera merah. Tradisi ini berkaitan dengan masa Dinasti Ming.

Pada saat itu, Li Zicheng, seorang pemimpin pemberontak mempersiapkan diri untuk menguasai Kota Kaifeng. Agar penyerangan tidak mengganggu rakyat jelata, Li memerintahkan rakyat untuk menggantung lentera merah di pintu rumahnya sebagai tanda.

Namun malangnya saat itu terjadi banjir. Penduduk lari ke atap rumah untuk menyelamatkan diri sambil membawa lentera merah. Dari kejauhan, Li melihat rakyatnya karena cahaya lentera merah tersebut dan bahkan prajuritnya untuk menolong mereka.

Sejak itulah untuk memperingati kebaikan hati Li, Bangsa Tionghoa selalu menggantung lentera merah pada setiap perayaan penting, salah satunya tahun baru Imlek.

2. Membunyikan Petasan
Menurut legenda Tionghoa kuno, zaman dahulu di atas rumpun pohon bambu hidup makhluk aneh yang dinamakan makhluk gunung. Makhluk aneh ini pendek, hanya memiliki satu kaki, dan dikenal suka mengganggu penduduk desa.

Suatu hari karena kedinginan, penduduk desa membakar bambu dalam perapian. Makhluk gunung pun muncul tiba-tiba dan menyerang mereka. Namun saat kekacauan terjadi, potongan bambu yang berada di perapian meletus dan menakut-nakuti para mahluk gunung ini. Sejak itulah tradisi membunyikan petasan dilakukan, terutama saat malam tahun baru Imlek.

3. Menyembunyikan Sapu
Tradisi Imlek yang tak kalah unik lainnya adalah menyembunyikan sapu. Menurut legenda, pada zaman dahulu ada seorang pedagang bernama Ou Ming yang selalu berpergian menggunakan perahu.

Suatu hari, saat ia sedang berlayar tiba-tiba badai menghadang. Ou kemudian ditolong oleh Qing Hongjun, penghuni pulau tersebut. Qing menjamu Ou dengan hangat, kemudian berniat memberikan kenang-kenangan kepada Ou.

Ou kemudian meminta Ru Yuan, pelayan cantik yang bekerja di rumah Qing. Qing awalnya ragu, namun akhirnya ia memberikan Ru Yuan beserta satu peti permata. Namun Ou ternyata berniat jahat, ia berniat memiliki semua permata itu sendiri. Ia merayu Ru Yuan agar memberikan kunci peti permata itu.

Akhirnya, kunci itu diberikan. Ru Yuan melihat sebuah sapu bersandar di pohon, kemudian ia memutuskan untuk menghilang ke dalam sapu. Saat menghilang, semua harta di rumah Ou pun turut hilang.

Karena itulah, saat menyambut tahun baru Imlek, orang Tionghoa akan membersihkan rumahnya kemudian menyembunyikan sapu, dengan harapan semua hal yang tidak diinginkan hilang tersapu.

Hingga kini, mitos tak boleh menyapu saat hari raya Imlek karena takut dapat menghilangkan seluruh berkah masih melekat pada masyarakat Tionghoa.

4. Pemboman Naga
Perayaan di Taiwan juga memiliki tradisi tahun baru Imlek yang cukup unik yang bernama pemboman naga. Pemboman naga yaitu kegiatan melempar petasan pada para penari liong atau naga.

Ada juga pemboman Guru Handan atau tradisi melempar petasan pada Guru Handan, seorang laki-laki yang tak mengenakan pakaian. Selain itu ada pula Festival Roket Sarang Lebah di mana ribuan kembang api akan dinyalakan di kawasan Yanshui, Taiwan bagian Selatan.

 

End of content

No more pages to load