Warga Desaku Menanti duduk di sebuah gazebo. (Foto : Agung Wardoyo untuk JatimTIMES)

Warga Desaku Menanti duduk di sebuah gazebo. (Foto : Agung Wardoyo untuk JatimTIMES)



MALANGTIMES - Sudah dua tahun lebih Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang  bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Mutiara Insani membuat sebuah program "Desaku Menanti".

Desa binaan itu terletak di Dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kota Malang. Desaku Menanti berisi 35 KK yang kebanyakan dihuni mantan gepeng (gelandangan, pemulung, pengemis) dari berbagai macam daerah di Kota Malang seperti Sukun dan Muharto. 

Mereka diberi pengarahan dan diajarkan berbagai macam keterampilan. Tujuannya agar mereka bisa mandiri secara ekonomi dan tidak kembali berprofesi seperti sebelumnya.

Setelah lebih dari dua tahun tinggal di Desaku Menanti, usaha Dinas Sosial dan LKS Mutiara Insani mulai membuahkan hasil. Beberapa warga yang berkomitmen untuk berubah mulai bisa menghidupi keluarganya dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan seperti menjadi tukang bangunan, penjual rujak, pembuat gorden dan pembuat topeng.

Wahyu Syahputra (16) salah satunya. Dia mengaku merasa betah tinggal di Desaku Menanti. "Saya betah tinggal di sini ketimbang waktu tinggal di Sukun dulu," ungkapnya. Wahyu mendapatkan pelatihan pembuatan topeng dari Dinas Sosial dan tetap konsisten untuk menekuninya.

Baca : Lestarikan Topeng Malangan, Pemuda di Kampung Topeng ini Memproduksi dan Buka Kelas Khusus.

Dijumpai di rumahnya, warga lainnya, Ibu Prapti (41), merasa sangat terbantu dengan adanya program yang diadakan Dinas Sosial ini. "Kami merasa terbantu dengan adanya program ini. Saat pertama  datang ke sini, kami diberi jaminan hidup selama 3 bulan. Kami  juga dapat modal untuk memulai usaha," ungkapnya. 

"Suami saya bekerja jadi tukang renovasi rumah. Dua anak saya kerja di luar kota. Lalu yang paling kecil sekarang mondok di Pesantren Darussa'adah di Gubuk Klakah. Kakak-kakaknya membantu saya membiayai dia mondok. Kadang juga diberi bantuan oleh dinas untuk beli buku paket. Saya merasa sangat terbantu," sambungnya.

Prapti ini juga mampu memanfaatkan masalah jaringan telekomunikasi yang ada di wilayah Desaku Menanti menjadi lahan bisnis dengan cara bekerja sama dengan RT setempat untuk berlangganan Wi-Fi lalu menjualnya kembali kepada warga dan pengunjung seharga 3 ribu per 6 jam.

Memang ada beberapa di antara warga Desaku Menanti  yang masih belum memiliki pemikiran untuk maju dan masih belum memiliki keinginan untuk berubah. Namun, banyak  yang telah berusaha untuk memperbaiki nasibnya. 

End of content

No more pages to load