Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati (kiri) dan Rektor ITN Malang Lalu Mulyadi (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati (kiri) dan Rektor ITN Malang Lalu Mulyadi (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati mengimbau agar perguruan tinggi tidak terlalu silau pada perkembangan industri 4.0.

Malahan, Dimyati menyarankan agar perguruan tinggi menyiapkan diri.

"Mestinya kita juga harus melihat di mana posisi kita berada. Jadi jangan terlalu silau kepada yang di depan," ungkapnya saat ditemui di sela acara Seniati (Seminar Nasional Inovasi dan Aplikasi Teknologi Industri) 2019 di Gedung Elektro Kampus 2  Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Sabtu (2/2/2019).

Baca Juga : Dampak Covid-19, Beasiswa LPDP ke Luar Negeri Ditunda Tahun Depan

Perkembangan teknologi ini menurut Dimyati akan terasa dampaknya kelak. Nantinya, semua akan berbasis IT dan robot. Jadi, banyak tenaga manusia yang tidak diperlukan.

"Perkembangan seperti itu otomatis akan mempengaruhi banyak orang yang pekerjaannya terpaksa harus mundur sebab ada pengurangan tenaga kerja karena semua berbasis IT dan robot. Ini kita harus mengantisipasi dari sekarang," tandasnya.

Untuk itu, perguruan tinggi juga harus mengikuti perkembangan zaman. Kampus harus berani untuk melihat perkembangan teknologi 20 tahun hingga 30 tahun ke depan.

Dimyati pun mencontohkan, saat ini saja sudah ada print 3 dimensi yang dapat mencetak suatu benda. 

"50 tahun dari sekarang itu mungkin orang bisa membuat rumah dengan mesin 3 dimensi yang lebih besar. Ini yang harus dilihat perguruan tinggi," tandasnya.

Oleh karena itu, menurutnya perguruan tinggi harus mulai mempersiapkan mahasiswanya.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Salah satunya melalui kurikulum yang mampu menjawab tantangan 20 tahun hingga 30 tahun ke depan itu. 

Perencanaannya pun harus menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.

"Itu berarti kurikulum juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan yang akan datang nanti. Ilmu itu sangat dinamis. Perguruan tinggi dari sekarang harus mulai bisa berkomunikasi dengan pusat-pusat  penelitian di manapun sehingga bisa mengetahui perkembangan dimasa depan," paparnya.

Implementasi teknologi ini pun sudah disarankan oleh pemerintah. 

Saat ini, perguruan tinggi sudah boleh melakukan perkuliahan tanpa face to face. Jadi melalui teknologi dan bisa dilakukan di manapun.

"Kalau kita tidak memanfaatkan teknologi seperti itu yang dibolehkan oleh regulasi ya kita akan tertindas," tegas Dimyati.