Tim Witter-64 (Foto: ist)

Tim Witter-64 (Foto: ist)



MALANGTIMES - Sungai Citarum yang membelah Kota Bandung dan daerah sekitarnya sempat menjadi primadona lantaran kejernihannya beberapa tahun lalu. Namun, Sungai yang mempunyai panjang kurang lebih 225 km itu kini sudah tercemar.

Limbah pabrik dan sampah rumah tangga menggenangi permukaan sungai. Bahkan, penumpukan sampah yang ada di Sungai Citarum berdampak banjirnya Kota Bandung saat hujan lebat mengguyur.

Mengatasi hal ini, sekelompok mahasiswa Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) Tim Witter-64 memiliki ide yang cukup sederhana. Ide itu membuat mereka beberapa waktu yang lalu berhasil membawa pulang piala Juara 1 serta uang 12 Juta Rupiah di kompetisi Design Innovation Project 2018 yang diadakan di Institut Teknologi Bandung.

Tim ini diketuai oleh Gatot Iman S. (T. Pengairan 2015) dengan bantuan rekan satu timnya, Irma Yunita (T. Pengairan 2015), dan Dhiya Ulhaq A. (T. Pengairan 2015).

Berangkat dari berbagai permasalahan banjir di sungai Citarum yang belum terselesaikan, Tim Witter-64 berhasil menganalisa alasan di balik fenomena tersebut. Banjir yang terjadi disebabkan oleh sedimentasi yang menyebabkan pendangkaalan. Sedimentasi yang terjadi karena adanya erosi lahan, limbah cair, dan limbah sampah.

“Ide yang kami bawakan untuk pengendalian banjir terpadu di sungai Citarum sebenarnya cukup sederhana, yakni dengan menggunakan dua perencanaan yaitu perencanaan struktural dan non-struktural” ujar Gatot.

Menurut Gatot, perencanaan struktural yang dimaksud yaitu dengan normalisasi atau mengeruk sedimen yang ada di dasar sungai Citarum agar penampang sungai dapat menambah kapasitasnya.

Lalu untuk memaksimalkan normalisasi, digunakan konsep green barrier atau sering disebut penghijauan di sempadan sungai menggunakan pohon Rasamala yang dapat mengurangi limpasan air permukaan dan dapat mengurangi erosi. Selanjutnya, terdapat perencanan IPAL untuk mengurangi pencemaran limbah domestik rumah tangga.

"Sedangkan perencanaan non-struktural berkaitan dengan pembuatan regulasi, edukasi masyarakat dan adanya penunjang struktural seperti relokasi dan revitalisasi," imbuhnya.

End of content

No more pages to load