Screenshot akun Instagram tirto terkait konten yang membuat warganet protes
Screenshot akun Instagram tirto terkait konten yang membuat warganet protes

MALANGTIMES - Unggahan tirto.id media online dengan konten-konten menarik, akhirnya tercoreng juga. Ibarat setitik nila rusak susu sebelanga, salah satu konten tirto.id berjudul "Klaim Sains Asbun Nasionalis India" mendapat reaksi terbilang keras dari warganet.

Konten berita tirto.id di akun Instagram-nya, 23 jam lalu, tersebut ramai mendapat kritik atas judul yang terbaca menohok warganet. Terutama pemakaian frasa Asbun dalam judul kalimat dengan infografis yang menampilkan akun twitter tokoh-tokoh India dengan pernyataannya mengenai teknologi canggih di masa Mahabharata dan Ramayana.

Misalnya, Gollapalli Nageshwar Rao yang menyatakan pada kongres Sains India ke-106 yang digelar 3-7 Januari silam, seorang pejabat tinggi universitas di India mengatakan Kurawa—anak Raja Dretarastra dan Gendari yang jumlahnya seratus dalam epos Mahabharata—bisa lahir dari seorang ibu berkat adanya teknologi sel punca dan bayi tabung. 

"Kurawa (yang berjumlah 101 orang) bisa lahir dari seorang ibu berkat teknologi sel punca dan bayi tabung," cuit Gollapalli Nageshwar Rao.

Berbagai cuitan para nasionalis India tersebut, diunggah oleh tirto.id dan membuat warganet menyatakan konten tersebut sesuatu yang riskan dan bisa menyulut SARA. Warganet juga menyarankan agar tirto.id mengunggah konten yang Pancasilasis dan umum saja.

Akun arya_lawa_manuaba menyatakan pembahasan tentang Mahabharata dan Ramayana adalah hal riskan dan akan ada kalangan tertentu yang tidak menerima dan akan menyulut sara. Akun Arya didukung juga dengan luhmaderatih yang juga menyampaikan, bahwa kisah Mahabharata dan Ramayana bagi sebagian besar pemeluk Hindu bukan sekedar epos saja. "Tapi, sejarah ajaran agama kami," tulis akun Luhmaderatih.  
Komentar Arya dan Luh Made di @tirto secara lengkap disajikan di bawah ini.

Arya yang menuliskan bahwa dirinya seorang akademisi bidang sastra dan naskah kuno menguatkan apa yang disampaikan Luhmaderatih mengenai kitab Ramayana dan Mahabharata bukanlah mitos. Tapi, catatan sejarah yang telah ada sejak ribuan tahun. Dimana dalam kitab tersebut telah disebutkan berbagai macam peralatan canggih yang kita kenal saat ini, tapi dengan penyebutan berbeda.

"Kitab suci Veda Ramayana dan Mahabharata adalah catatan sejarah bukan mitos..." tulisnya yang juga disepakati oleh akun Ikhwatulisro yang juga menuliskan, "...tidak ada teknologi baru atau yang ditemukan baru di dunia ini. Yang ada hanyalah ditemukan kembali dengan pendekatan berbeda...". 

Hal ini juga diamini akun w_ariwibowo :"Yang pada ngetawain termasuk Tirto, mungkin coba di gali lagi kisah-kisah tentang Ramayana dan Mahabharata..." komentarnya.

Berbagai komentar senada atas ketidaksukaan warganet terhadap konten tirto.id tersebut terbilang banyak. Terutama dengan adanya pemakaian frasa Asbun atau asal bunyi yang disematkan dalam judul beritanya. 

"...tidak semena-mena menganggap hal tersebut Asbun/anakronik. Saya menghormati segala kitab suci dan isinya..."tulis robithabd yang didukung oleh luhmaderatih, "...be wise @tirtoid dengerin kata mas @robithabd.

Akun ranggaramadia, "Dah minus 1...berita tirto  saya anggap...biasanya saya baca dan ikuti akun sosmed, menarik...tapi yang ini terkesan menjelekkan agama lain yang diakui negara ini. Gimana nanti agama saya juga bisa diolok2 seperti ini," tulisnya.

Secara berseloroh akun arya menuliskan, bahwa jika Tirto memiliki misi terselubung terhadap minoritas atau menjadi suruhan iluminati barangkali, saya sarankan kontenmu lebih Pancasilais dan umum. Jika tidak saya takut kredibilitasmu menurun karena didomplengi misi tertentu.