Keripik temle rasa keju yang siap di kemas

Keripik temle rasa keju yang siap di kemas



MALANGTIMES - Di Kota Malang, ada sebuah industri makanan yang bisa menghasilkan Rp 1 miliar dalam sehari saja. Ya, industri tempe di kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Blimbing mampu menghasilkan sebanyak itu.

Kampung Sanan ini merupakan kampung dengan produksi tempe terbesar di Jawa Timur. Tak tanggung - tanggung, dalam sehari kampung ini mampu menghasilkan 30 ton tempe dalam sehari saja yang sekitar 40 persen hasil produksinya berupa keripik tempe.

Tempe yang berlimpah ini diproduksi oleh 3 RW di kampung ini, yaitu RW 14,RW 15 dan RW 16.

"Data sekarang IKM tempe dan keripik tempe itu ada 636 yang aktif sekarang hasil pendataan dari kecamatan," ujar Arif Sofyan Hadi sebagai pembuat tempe sekaligus Ketua Paguyuban Tempe dan Keripik Tempe Sanan kepada MalangTIMES jumat (1/2/2019).

Proses pemotongan tempe yang masih manual menggunakan pisau besar (foto Luqmanul Hakim)

Dalam sehari, warga kampung ini memproduksi sekitar 30 kuintal sampai 1,8 ton tempe. Sehingga, sirkulasi dana di kampung tempe ini mencapai Rp 1 miliar setiap harinya.

Tak hanya tempe mentah dan keripik tempe saja, kampung ini juga mengolah tempe menjadi beragam aneka makanan, seperti stik tempe, brownis tempe, coklat tempe dan masih banyak olahan lainnya yang berbahan dasar tempe tentunya.

Uniknya, mereka masih menggunakan alat tradisional berupa pisau besar untuk memotong tempe. Karena dengan pemotongan secara tradisional tersebut tempe yang telah dipotong dan masih basah bisa menyerap bumbunya. Ada juga beberapa warga yang sudah menggunakan teknologi mesin untuk mempercepat produksinya. Namun, Arif beranggapan bahwa penggunaan mesin tersebut, harus menggunakan tempe yang kering.

"Kalo pake mesin terus tempenya masih basah itu bisa hancur, jadi harus pake tempe kering. Nah, kalo tempe kering, pas dicampuri bumbu, bumbunya itu tidak meresap," kata Arif.

Selain itu, ia juga beranggapan bahwa penggunaan alat tradisional itu merupakan sebagai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung selain untuk mempertahankan citarasa yang maksimal. Ia juga menuturkan alasan lainnya adalah karena mesin yang digunakan masih sangat mahal, sehingga sampai saat ini masih menggunakan alat tradisional.

Proses penggorengan keripik tempe sebelum di bumbui

Keripik tempe buatan kampung Sanan ini, tak hanya dijual di lokal Malang saja, namun sudah masuk ke pasaran nasional. Bahkan penjualan sudah sampai mancanegara seperti Hongkong, Amerika dan Arab Saudi.

"Kalau keluar negeri biasanya mereka pake produknya sendiri, tapi ordernya masih dari sini," kata Arif.

Namun, penjualan ke mancanegara tersebut masih hanya sebatas beberapa orang saja dikarenakan kesulitan perizinan yang menjadi kendalanya. Ia berharap pemerintah terus mensupport kampung tempe dan keripik tempe Sanan ini, khususnya di bidang perizinan.

End of content

No more pages to load