Ketua tim Komisi VII DPR RI Ir. Hr. Ridwan Hisyam (tengah) bersama Rektor UB Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani (kanan) (Foto: Humas)

Ketua tim Komisi VII DPR RI Ir. Hr. Ridwan Hisyam (tengah) bersama Rektor UB Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani (kanan) (Foto: Humas)



MALANGTIMES - Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan mineral. Sayangnya, bahan bakar fosil di Indonesia tidak akan bertahan lama lagi. Rektor Universitas Brawijaya (UB) Nuhfil Hanani mengatakan bahwa bahan bakar fosil akan bertahan 50 hingga 70 tahun lagi.

"Padahal ini penting lo. Tapi agak terlambat untuk pembahasaannya," ungkap dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Terkait RUU Tentang Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Guest House UB belum lama ini.

Pembahasan RUU tentang Energi Baru dan Terbarukan Bersama Komisi VII DPR RI dan Universitas Brawijaya ini dihadiri oleh Ketua tim Komisi VII DPR RI Ir. Hr. Ridwan Hisyam, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS selaku Rektor Universitas Brawijaya, Kepala LLDIKTI Jawa Timur Ir. Suprapto, Perwakilan Rektor se-Malang Raya, serta anggota tim Komisi VII DPR RI.

Dari FGD ini, kemudian UB menawarkan opsi pengembangan energi terbarukan dari geotermal, gelombang laut, dan angin. "Beberapa itu yang baru diteliti dan bisa dimanfaatkan. Masih banyak yang belum tersentuh sebelumnya," pungkas Nuhfil.

Sementara itu anggota DPR RI Ridwan Hisjam mengatakan peran perguruan tinggi sangat penting dalam perumusan RUU EBT ini. "Perumusan RUU EBT ini memang sangat perlu bagi investor dan pengusaha. Kalau hanya sekedar peraturan-peraturan menteri nanti diubah dan nggak ada kepastian, takut mereka," katanya.

Untuk diketahui, RUU EBT adalah inisiatif dewan untuk mengatasi krisis sumber energi fosil. Dikatakan Ridwan, RUU bisa menjadi payung hukum EBT saat ini. Sebab, para pengusaha kecil mulai tertarik dengan adanya EBT ini.

"Memang sebelumnya harga EBT sangat mahal, di Sulawesi Selatan bisa mencapai Rp 11 Miliar. Tetapi jika dibandingkan dengan efeknya, lama kelamaan harganya juga murah, asal ada campur tangan pemerintah," tegasnya.

Nah, akan tetapi, Indonesia juga merupakan negara nomer satu dengan potensi bencana alam. Untuk itu, RUU EBT menurut Dosen Geofisika UB Sukir Maryanto, Ph.D juha perlu dilengkapi dengan desain analisa sebuah bencana alam.

RUU perlu dilengkapi dengan melibatkan berbagai konsep yang berkaitan dengan keseimbangan antara memanfaatkan Sumber Daya yang ada.

"RUU perlu dilengkapi dengan melibatkan berbagai konsep yang berkaitan dengan keseimbangan antara memanfaatkan Sumber Daya yang ada dengan bagaimana desain analisa sebuah bencana sehingga bisa berimbang dalam menyikapinya. Ini yang harus ditambahkan dalam RUU," ujarnya dalam 

 

End of content

No more pages to load