Tiga dari kanan : Budiar Kepala DTPHP Kabupaten Malang saat cek lokasi kebun buah naga yang diserang cendawan (DTPHP for MalangTIMES)

Tiga dari kanan : Budiar Kepala DTPHP Kabupaten Malang saat cek lokasi kebun buah naga yang diserang cendawan (DTPHP for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Menjelang Imlek, biasanya para petani buah naga mendapat rejeki berlebih. Dikarenakan penjualan buah naga akan melesat tinggi. Banyak masyarakat yang membeli dan mencari buah yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang sekarang juga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia dan Malaysia itu.

Tapi, menjelang Imlek tahun ini, para petani buah naga dibuat kecut dan pening kepalanya. Khususnya di wilayah Ngajum, tepatnya di Desa Palaan. Dikarenakan adanya serangan cendawan yang membuat kulit buah naga menjadi rusak berwarna cokelat kehitaman. Seperti membusuk. 

Efeknya produksi buah naga petani turun drastis dan secara langsung juga harga jual pun terjun bebas di pasaran. Seperti yang disampaikan oleh salah satu petani buah naga, Teja Wibawa.

"Diserang jamur dan membuat produksi turun banyak sekali. Dari 100 kilogram (Kg), kita hanya bisa menjual sekitar 25 Kg saja. Lainnya rusak dan tidak laku dijual. Harga pun 50 persen lebih turun dari biasanya di pasaran," kata Teja yang juga mengatakan, harga normal buah naga per kg adalah Rp 10 ribu. "Tapi sekarang menjadi Rp 5 ribu per kilonya. Karena ulah jamur ini," keluhnya beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut yang membuat Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, kena getahnya.

Dinas di bawah komando Budiar ini dituding tidak memberikan pendampingan yang maksimal kepada para petani buah naga. Khususnya yang ada di wilayah Ngajum, sehingga membuat petani buah naga dibuat pening tujuh keliling dengan serangan jamur tersebut.

Budiar Kepala DTPHP Kabupaten Malang pun akhirnya memberikan pernyataannya terkait persoalan tersebut. Setelah dirinya bersama petugasnya terjun di lokasi tersebut. Para petugas langsung melakukan penelusuran atas anjloknya produksi buah naga di Palaan, Ngajum tersebut.

"Tidaklah kita tidak diam dengan kondisi tersebut. Kita bergerak kok. Pendamping pertanian di wilayah ini juga bergerak atas adanya serangan jamur tersebut," kata Budiar kepada MalangTIMES, Rabu (30/01/2019).

Dari cek lokasi dan penelusuran DTPHP Kabupaten Malang, akhirnya diketahui penyebab pasti anjloknya produksi buah naga di Palaan, Ngajum. Yakni adanya serangan cendawan dan bakteri yang memang mampu menurunkan produksi buah naga para petani.

Para petugas lapangan pun mengambil sampel buah naga yang diserang cendawan dan bakteri tersebut. Dalam upaya mengetahui jenis cendawan serta solusi efektif pencegahan dan pemberantasannya.

"Kita ambil sampelnya untuk dilakukan uji laboratorium. Agar diketahui penyebab dan pencegahannya. Selain karena cendawan, ternyata produksi buah naga di sini turun juga karena usia pohonnya sudah tua," ujar Budiar.

Dari hasil cek di kebun buah naga di Palaan tersebut, pihak DTPHP Kabupaten Malang, menganjurkan para petani untuk melakukan beberapa pencegahan yang nantinya didampingi para penyuluh pertanian.

Pencegahan serangan jamur atau cendawan dan bakteri buah naga, lanjut Budiar, adalah dengan adanya sanitasi kebun, penambahan pupuk organik, aplikasi agens hayati. Serta juga mengaplikasikan bubur california dan pemantauan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara kontinyu.

"Itu semua kita lakukan. Jadi tidak benar juga kalau kita dianggap minim perhatian kepada petani buah naga," tegasnya.

Disinggung tindakan lain, selain penyuluhan dan pendampingan, Budiar mengatakan, untuk produk buah naga memang pihaknya tidak bisa memberikan bantuan barang. Misalnya bantuan pupuk atau pun obat pengusir OPT buah naga memang tidak ada. Apalagi para petani buah naga dalam melakukan aktivitasnya dilakukan secara pribadi-pribadi warga. 

Bukan kelompok petani, seperti kelompok tani di produk pertanian lainnya.
"Jadi kita memang tidak bisa memberi bantuan barang pada perorangan. Tapi kita tidak diam. Bantuan pendampingan dan penyuluhan terus kita berikan," pungkas Budiar.

End of content

No more pages to load