Ilustrasi, pembangunan jalan Tol Malang-Pandaan yang tengah dikebut untuk dioperasionalkan pada 2019 ini. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Ilustrasi, pembangunan jalan Tol Malang-Pandaan yang tengah dikebut untuk dioperasionalkan pada 2019 ini. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Pembangunan jalan tol di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk di Malang Raya bakal berimbas positif di segi perekonomian. Bank Indonesia (BI) optimis keberadaan jalan tol tersebut akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi Jatim di tahun 2019 ini.
 

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jatim, Difi A. Johansyah menyebut, tol yang dibangun tak hanya menghubungkan antar wilayah. Melainkan juga mempercepat akses distribusi barang dan jasa dari pusat ke daerah. "Kami menyambut baik pembangunan jalan tol baru. Artinya, konektivitas akan berjalan baik ke pulau Jawa, ini yang akan mendorong aliran manusia dan barang," tuturnya.
 

Sehingga dengan kondisi ini, lanjut Difi, akan muncul banyak sentra pertumbuhan ekonomi baru di pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Menurutnya, konektivitas tersebut tak hanya dari sektor perekonomian, namun juga sektor pariwisata. 
 

Sektor pariwisata juga tentunya dapat meningkatkan perekonomian. Apalagi di wilayah Jawa Timur cukup banyak potensi pariwisata. "Ke depan, BI sedang mengembangkan potensi pariwisata. Di Jatim banyak potensi pengembangan pariwisata seperti Banyuwangi, Bromo-Semeru, termasuk Malang dan Batu," tuturnya.
 

"Dengan keberadaan jalan tol, maka akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke Jatim, sebab akses jalan yang semakin mudah," imbuhnya. Ia menambahkan, perkiraan defisit transaksi berjalan pada triwulan satu tahun 2019 relatif lebih baik. 
 

Bank Indonesia meyakini, defisit transaksi itu akan semakin membaik dibandingkan tahun  sebelumnya. "Ini faktor yang akan memicu kembalinya dana asing, sehingga rupiah kembali relatif terjaga. Sementara Jatim memiliki peluang besar untuk pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya jalan tol, kami juga berharap perdagangan antar pulau semakin meningkat," pungkas Difi.

End of content

No more pages to load