Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Mahmud MD (kiri) dan Rocky Gerung saat berdebat di ILC, Selasa (29/1/2019) malam. ( Foto : Istimewa)
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Mahmud MD (kiri) dan Rocky Gerung saat berdebat di ILC, Selasa (29/1/2019) malam. ( Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Rocky Gerung kembali tancap gas menyikapi polemik pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir. Dirinya secara lugas menyatakan Presiden Jokowi adalah hoax terkait hal tersebut. Dirinya juga mengatakan betapa konyolnya seorang presiden saat kebijakannya dikoreksi oleh bawahan. 

Baca Juga : Ini Jawaban Ustaz Yusuf Mansur saat Ditanya Apakah Dukung Anies Baswedan Maju Pilpres 2024

Pernyataan keras Rocky lepas dari berbagai kepentingan tersebut, didasarkan dengan ramainya perdebatan hukum terkait pernyataan Jokowi mengenai pembebasan Ba'asyir, beberapa waktu lalu. 

Pernyataan presiden terkait pembebasan Abu Bakar Basyir pun membuat bawahan Jokowi sibuk memberikan koreksi kepada pimpinannya tersebut. Salah satunya Wiranto Menko Polhukam yang mengatakan, "Presiden tidak boleh grusa grusu serta memutuskan," ucapnya menyikapi kebijakan Jokowi. Berbagai kalangan pun sama. Mereka mempertanyakan mengenai rencana pembebasan Ba'asyir yang tanpa syarat atau bebas murni. 

"Presiden dibantah oleh bawahannya itu tidak elok. Terkait itu semua ini didasari motif politik. Untuk menambah elektabilitasnya. Sinopsis itu yang tertangkap publik," ujar Rocky, Selasa (29/01/2019) malam dalam acara ILC. Rocky juga memberikan analisis terkait hal tersebut. Menurut nya ada dua analisis terjadinya polemik tersebut. Pertama, merupakan bentuk kedunguan dan lainnya adalah untuk merongrong legitimasi presiden. 

"Ini seperti black market of justice. Kita tidak tahu siapa pemainnya ini," imbuhnya. 

Berbeda dengan Rocky, Mahfud MD tidak ingin terjebak dalam polemik dengan kepentingan politik. Seperti yang diperlihatkan para narasumber acara tadi malam. Persoalan Ba'asyir yang ditarik ke ranah politik dan saling menjatuhkan, bagi Mahfud bukan porsinya. 

Mahfud di sesi akhir memberikan wacana hukum atas terjadinya polemik mengenai Ba'asyir. Yakni mengenai bebas murni, bebas bersyarat serta prosedural hukum atas kasus ini. 

"Jadi bukan lagi persoalan kemanusiaan apalagi politik. Saya berbicara secara hukum," ucapnya yang juga menegaskan secara pribadi dirinya merasa kasihan dengan kondisi Ba'asyir yang secara usia telah tua. "Tapi ini negara hukum. Kemanusiaan dalam hukum terkait kasus ini ada dalam beberapa prasyarat bebas bersyarat. Bukan bebas murni, salah satunya adalah telah menjalani 2/3 dari masa tahanannya, bisa bebas tapi bersyarat," ujar Mahfud. 

Baca Juga : Dewan Dorong Pemkot Malang Salurkan Bantuan Sembako bagi Warga Terdampak Covid-19

Dirinya juga menegaskan, tidak ada lagi tahanan yang bisa bebas murni dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2013 lalu. Hanya ada bebas bersyarat dan bebas biasa dengan berbagai prasyarat yang harus dilalui. 

"Jadi tidak mungkin Ba'asyir dibebaskan murni seperti polemik saat ini," tegasnya sambil mencontohkan saat dirinya ditanya para wartawan terkait hal tersebut. 

Untuk mendapatkan bebas bersyarat tersebut, Ba'asyir harus bisa memenuhi berbagai prasayarat yang ditentukan aturan hukum yang ada. Hal ini didasarkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012. Dimana dalam PP tersebut dinyatakan, " Melarang memberi remisi terpidana karena terorisme, narkoba, korupsi, dan kejahatan kemanusiaan,". 

"Enggak ada jalan remisi, enggak bisa. Satu satunya jalan adalah pembebasan bersyarat yang syarat-syaratnya itu harus dipenuhi. Salah satu telah menjalani 2/3 masa tahanan, asimilasi, pembinaan deradikalisasi dan lainnya," urai Mahfud. 

Dirinya juga menegaskan, apabila memang mau membebaskan Ba'asyir demi kemanusiaan maka satu-satunya jalan adalah dengan menerobos aturan itu sendiri. 

Dimana diterbitkan sebuah Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) demi Abu Bakar Ba'asyir. Dengan membatalkan UU yang ada dan dipakai sampai saat ini. "Baru itu bisa keluar, tanpa itu secara hukum ya pembebasan bersyarat," pungkas Mahfud.