Hutan Kota Kepanjen yang terlihat tidak terurus (Nana)
Hutan Kota Kepanjen yang terlihat tidak terurus (Nana)

MALANGTIMES - Hutan Kepanjen yang terletak di jalan raya Talangagung, tepat di belokan jembatan kembar, terlihat tidak terawat. Hal ini terlihat dari penanda besar berupa tulisan, "Kepanjen Kota Hijau" yang terlihat kotor.

Selain itu, trotoar jalan pun berlumut hijau. Diperparah dengan adanya pembangunan wisata kolam renang Metro yang sampai saat ini dalam proses penyelesaian. Bangunan yang biasanya dipakai loket, kini masih terbengkalai. Sehingga menambah kesan kusam di areal hutan yang luasnya sekitar 800 meter persegi.
Kondisi tersebut, membuat hutan kepanjen yang rencananya akan dijadikan wisata hutan berkonsep edukasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, terlihat tidak sedap dipandang mata.

Padahal, sebagai bagian dari wilayah Ibu kota Kabupaten Malang, kondisi tersebut membuat kesan yang berbanding terbalik dengan raihan Adipura beberapa waktu lalu.
"Memang terlihat kotor, mas. Apalagi dengan adanya pembangunan di Metro. Ini tulisannya saja sampai seperti ini," kata Sambudi warga Talangagung, Senin (28/01/2019) kepada MalangTIMES.

Di musim penghujan seperti saat ini, kondisi tulisan yang terbilang besar dan menyolok mata semakin riskan kotor. Begitu pula dengan trotoar jalan yang semakin menghijau karena lumut. Dan tidak pernah terlihat dibersihkan oleh petugas. Dalam hal ini kewenangan hutan kota Kepanjen berada di DLH Kabupaten Malang.
Muka depan yang  tidak terawat dengan kondisi seperti yang terlihat tersebut. Membuat wajah ibu kota menjadi tidak sedap dilihat mata. Padahal hutan Kota Kepanjen termasuk jalur yang juga padat dilalui berbagai kendaraan luar kota.

Padahal, sejak tahun lalu, DLH Kabupaten Malang telah mewacanakan adanya pembangunan di hutan Kota Kepanjen. Yakni dengan melakukan 'permak' hutan kota menjadi wisata edukasi bagi anak-anak.

"Revitalisasi hutan Kota Kepanjen untuk mempercantik sekaligus sebagai ikon wisata Kepanjen. Untuk anggaran tidak banyak, hanya 200 sampai 300 juta rupiah," ucap Budi Iswoyo Kepala DLH Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, untuk melakukan pemeliharaan wajah hutan Kota Kepanjen saja, belum terlihat.
Fungsi hutan Kota Kepanjen selain menambah nilai estetika dan keasrian kota sehingga berdampak positif terhadap kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat, tentunya bisa terwujud bila kebersihannya terjaga. Sehingga hutan kota tidak hanya berfungsi sebagai sistem hidroorologi, menciptakan iklim mikro, menjaga keseimbangan oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2), mengurangi polutan, dan meredam kebisingan. Tapi juga membuat masyarakat mendapatkan estetikanya dari hutan Kota Kepanjen. 

Seperti yang disampaikan oleh Sambudi, "Bila dibersihkan rutin tentunya akan semakin menarik, tidak terlihat kumuh seperti saat ini," pungkasnya.