MALANGTIMES - Telah berjalan sangat lama, kondisi jalan nasional atau provinsi yang berada di ruas Kebonagung, Pakisaji, sampai Kepanjen kerap membuat pengendara geleng-geleng kepala. Berbagai protes warga yang dimuat di berbagai media atas kondisi jalan tersebut tidak membuat kondisi jalan menjadi baik.

Tetap rusak, bergelombang dan berpotensi tinggi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Jalan raya Kebonagung-Kepanjen dengan kisaran panjang 15 kilometer (km) tersebut ibaratnya jalan raya dengan rasa makadam.

Terutama di musim penghujan, jalan raya tersebut menjadi sangat berbahaya bagi para pengendara yang memadati ruas jalan tersebut. Berbagai lubang jalan kerap tidak terlihat karena digenangi air. Bahkan sebagian ruas jalan apabila hujan turun, airnya meluap dan menutupi jalanan. Serupa kolam keruh dengan berbagai lubang besar dan dalam.

"Kalau bicara jalan ini, sudah capek kayaknya Mas. Media saja tidak bisa membuat pemerintah turun dan memperbaiki jalan ini. Kita masyarakat kecil pasrah saja," ucap Antok, warga Kepanjen yang sehari-hari  bekerja di Kota Malang, Minggu (27/01/2019).

Dirinya tidak punya alternatif untuk melewati jalan lainnya selain tetap melewati jalan Kepanjen-Kebonagung yang kondisinya tidak sesuai dengan nama dan fungsi jalan tersebut. "Kalau lewat jalur Pakisaji, muter. Tambah jauh walaupun kondisi jalannya mulus dan enak," ujarnya.

Kondisi jalan raya Kebonagung-Kepanjen tersebut berbanding terbalik dengan jalan raya Kepanjen-perbatasan Blitar. Kondisinya sangat berbeda walau pun menjadi satu jaringan jalan yang menghubungkan Malang-Blitar.

Di jalur tersebut, kondisi jalan berstatus provinsi terbilang mulus. Bahkan, saat terjadi kerusakan, misalnya berlubang, pihak yang memiliki kewenangan di ruas jalan tersebut secara cepat melakukan penambalan.

Hal ini terlihat di salah satu jalurnya, yaitu di jalan raya Jatikerto yang mengalami lubang terbilang besar dan dalam. Warga sekitar pun langsung menanamkan pohon pisang di lokasi tersebut. Tidak menunggu lama, pohon pisang yang ditanam warga, keesokan harinya telah hilang. Lubang jalan tersebut pun sudah diperbaiki dan bisa dilalui secara tenang oleh para pengendara.
"Kalau di sana cepat penanganannya, Mas. Enggak tahu kenapa. Beda dengan di Kebonagung-Kepanjen," kata salah satu pejabat di Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang yang tidak bersedia disebut namanya.

Dirinya juga menyampaikan bahwa dengan kondisi jalan Kebonagung-Kepanjen tersebut, pihaknya yang kerap kena getahnya dari masyarakat. "Masyarakat tahunya kalau jalan rusak itu kan ke kami (Dinas PU Bina Marga). Tidak mau tahu itu jalan nasional, provinsi atau apa pun itu," ungkapnya.

"Padahal kita kerap juga mengajukan persoalan tersebut ke tingkat provinsi. Tapi nggak tahu belum ada respons kalau melihat warga kembali mengeluh atas kondisi jalan itu," imbuhnya.

Pengendara yang terbiasa melewati jalur tersebut tentunya sangat merasakan bagaimana rasanya dua jalur tersebut. Sama-sama jalan raya tapi satunya rasa jalan makadam yang membuat pengendara harus super-hati-hati sambil menahan berbagai goncangan dikarenakan jalur bergelombang. "Rasanya mirip jalan makadam kampung kalau sudah lewat jalur sana," pungkas Antok.