Perwakilan warga perumahan subsidi Perum BTU Malang menunjukkan surat yang dikirim ke Wali Kota Malang Drs Sutiaji di Kantor MalangTIMES, Selasa (22/1/2019) malam (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)

Perwakilan warga perumahan subsidi Perum BTU Malang menunjukkan surat yang dikirim ke Wali Kota Malang Drs Sutiaji di Kantor MalangTIMES, Selasa (22/1/2019) malam (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Sebelum melakukan pertemuan mendadak di masjid darurat perumahan Bulan Terang Utama (BTU), warga perumahan menyebut jika mereka sudah terlebih dulu berkirim surat ke pihak pengembang. Bahkan, surat tersebut sudah ditembuskan kepada Wali Kota Malang dan DPRD Kota Malang. 

Dalam pertemuan yang dilakukan dengan pihak pengembang itu, Ketua RW 17 Perumahan BTU Emik Gandamana menyebut jika pengembang sudah menyampaikan sama sekali tidak memiliki kewajiban membangun fasilitas umum (fasum) maupun fasilitas sosial (fasos). Dengan dalih untuk rumah subsidi tidak ada kewajiban pengembang menyediakan fasum maupun fasos.

"Saat bertemu dengan Direktur Utama Perum BTU Umang Gianto dikatakan jika pengembang rumah bersubsidi tidak memiliki kewajiban membuat fasum maupun fasos. Kami kan orang awam, jadinya bingung. Kalau sepemahaman kami, fasum dan fasos itu tetap tanggungjawab pengembang," katanya pada MalangTIMES. 

Karena merasa masih bingung, mereka pun memilih berkirim surat ke Wali Kota Malang dan DPRD Kota Malang. Dengan harapan akan diberi waktu untuk mediasi dan kejelasan terkait fasilitas yang semestinya didapat warga di perumahan bersubsidi. 

Mereka akhirnya berkirim surat ke Wali Kota Malang Drs H Sutiaji dan DPRD Kota Malang karena merasa yakin para wakil rakyat tersebut akan melindungi rakyatnya dan membantu memfasilitasi kepentingan masyarakatnya memenuhi hak-haknya. 

"Kami sama sekali belum paham aturannya. Jika memang dalam aturan benar pengembang tidak wajib memberikan fasum dan fasos maka kami terima itu. Tapi kalau sebaliknya kami akan terus memperjuangkannya," tegasnya lagi. 

Dia juga menyampaikan jika selama ini ada beberapa fasum dan fasos yang dulunya dijanjikan oleh pengembang. Namun tidak terwujud sampai sekarang. Salah satunya adalah fasilitas balai pertemuan dan fasilitas pendidikan. Sehingga, pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Posyandu dilakukan di rumah yang dipinjamkan oleh pengembang. 

Namun ketika rumah yang dibuat itu laku, maka akan dipindah lagi. Seperti PAUD dan Posyandu di RW 17 misalnya, yang dulunya ditempatkan di blok UJ 27. Lantaran rumah yang sering digunakan untuk Posyandu dan PAUD itu sudah laku, maka dipindah ke blok UJ 21. 

"Jumlah balitanya ada sekitar 100 lebih. Kalau Posyandu pasti antre panjang. Termasuk PAUD. Itu yang sekolah juga banyak. Dulu kan katanya akan ada fasilitas sekolah dan puskesmas, tapi sampai sekarang kok enggak ada," jelasnya.

End of content

No more pages to load