Kondisi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Perumahan Bulan Terang Utama (BTU) yang sempit dan tidak sebanding dengan kebutuhan warga setempat (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)

Kondisi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Perumahan Bulan Terang Utama (BTU) yang sempit dan tidak sebanding dengan kebutuhan warga setempat (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)



MALANGTIMES - "Dulu waktu akan beli dan memilih kavling, marketingnya bilang kalau di kawasan perumahan kami sekarang ini akan memiliki sekolah, puskesmas, tempat olahraga, Masjid dan tempat beribadah, hingga ruang terbuka hijau. Tapi kenyataannya, sekarang tidak seperti itu. Masjid saja sudah sejak 2016 sampai sekarang belum selesai-selesai," terang seorang warga yang meluapkan kemarahannya saat pertemuan warga perumahan Bulan Terang Utama (BTU) yang berlangsung di Masjid sementara di kawasan perumahan, Rabu (23/1/2019). 

Pagi itu, puluhan perwakilan warga perumahan BTU memang sengaja melakukan pertemuan mendadak. Pertemuan dilakukan karena keresahan yang sudah lama dipendam tak kunjung mendapat penyelesaian dari pihak pengembang. 

Jika kita ingat, dua tahun lalu warga perumahan BTU sudah melontarkan protes hingga pada Wali Kota Malang dan DPRD Kota Malang berkaitan dengan tidak adanya fasilitas rumah ibadah seperti yang dijanjikan. 

Alhasil, warga perumahan tersebut merasa kesulitan saat akan melaksanakan ibadah. Keresahan itu bermula lantaran warga perumahan BTU kesulitan saat akan melaksanakan salat Tarawih dan salat Idul Fitri berjamaah. 

Karena pada 2016, jumlah penduduk yang menempati kawasan perumahan itu bertambah banyak. Saat terus didesak memenuhi janji, pengembang saat itu memberikan sebuah fasilitas berupa gudang penyimpanan yang kemudian disulap menjadi masjid darurat yang masih beroperasi sampai sekarang. 

Pada pertengahan 2016, pengembang pun merealisasikan janjinya dengan membangun sebuah masjid yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari masjid darurat yang masih digunakan warga sampai sekarang. 

"Ya di sini inilah Mbak tempat beribadah umat muslim di Perumahan BTU. Itu di seberang sana ada masjid yang masih dibangun. Janjinya selesai 2017, tapi sampai sekarang belum selesai," kata Ketua RW 17 Perumahan BTU, Emik Gandamana pada MalangTIMES sembari menunjuk sebuah bangunan masjid yang sudah berkubah sesaat setelah melakukan pertemuan dengan warga, Rabu (23/1/2019). 

Dia pun melanjutkan ceritanya,  sebelumnya pengembang sempat menolak membangun masjid. Dengan alasan pengembang perumahan bersubsidi tidak memiliki kewajiban membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial, termasuk pembangunan masjid. 

Namun karena terus didesak, akhirnya pengembang setuju membangunkan sebuah masjid. Namun sudah berlangsung sejak 2016, hingga kini proses pembangunan masih belum rampung. 

Berdasarkan pantauan MalangTIMES, bangunan masjid dengan ukuran 29 meter kali 29 meter itu masih berjalan sekitar 65 persen. Tampak kubah sudah berdiri dengan bangunan tembok yang hampir sempurna. 

"Itu memang tinggal finishing saja sepertinya Mbak, tapi memang belum juga selesai," imbuhnya. 

Bukan hanya tempat beribadah, fasilitas lain juga kembali dipermasalahkan warga perumahan. Di antaranya berkaitan dengan tempat pembuangan sementara (TPS) hingga taman pemakaman umum (TPU) yang masih sangat jauh dari harapan jika dibandingkan dengan total kebutuhan yang ada. 

Menurut Emik, jumlah warga di perumahan BTU sudah mencapai ribuan. Tercatat ada seribu KK (kepala keluarga) di dua RW dan 25 RT. Masing-masing KK rata-rata dihuni oleh tiga orang. Namun fasilitas yang diberikan, terutama tempat pembuangan sampah sangat jauh dari kebutuhan yang sebenarnya. 

Saat melihat langsung lokasi TPA, MalangTIMES mendapati jika tempat pemakaman tersebut hanya berjarak sekitar dua meter saja dari rumah terakhir. 

Mirisnya, luasan lahan pemakaman masih jauh dari jumlah penduduk perumahan. Panjangnya sekitar 20 meter dan lebar lima meter saja. 

Saat ini, sudah ada beberapa nisan yang tertancap, menunjukkan sudah ada warga yang meninggal dan dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) tersebut. 

"Sudah ada 18 warga sini yang meninggal dan semuanya dikuburkan. Dulu, waktu awal-awal ada warga yang meninggal sempat kebingungan. Karena lahan pemakaman belum ada saat itu," tambah Emik. Warga pun menuntut agar TPU kembali ditambah dengan luasan yang sesuai dengan jumlah penduduk perumahan. 

Mereka juga meminta agar lokasi TPU tidak ditempatkan pada jarak yang sangat berdekatan dengan rumah warga. Sementara itu, warga yang mepet dengan kawasan TPU, Yuyun Ismayucha menyampaikan jika ia sudah menepati rumahnya sejak 2017 lalu. Saat itu ia dan suaminya sudah mengetahui jika rumahnya berdempetan dengan makam, dan hanya dipisahkan dengan jalan yang cukup dilewati dua motor. 

"Suami waktu itu memang dikasih tahu sama pemasaran kalau di samping ada makam. Awal-awal memang agak takut Mbak, tapi mau gimana lagi. Kan yang sudah dibangun dan tersisa di sini saja, ya akhirnya diambil," terangnya. Dia menjelaskan  rumah yang ia tempati dan berdekatan dengan makam baru dibeli dengan harga normal dan tidak ada kompensasi atau pengurangan.

End of content

No more pages to load