Wahyudi (kanan) tersangka persetubuhan terhadap anak di bawah umur saat dimintai keterangan penyidik UPPA Satreskrim Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Wahyudi (kanan) tersangka persetubuhan terhadap anak di bawah umur saat dimintai keterangan penyidik UPPA Satreskrim Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



MALANGTIMES - Seolah tidak puas melampiaskan hasrat cintanya, Wahyudi warga Desa Jambearjo, Kecamatan Tajinan, nekat menyalurkan nafsu birahinya kepada seorang remaja putri 15 tahun. Parahnya lagi, korban yang bernama Jelita (samaran) kini sudah melahirkan seorang anak dari hubungan terlarang tersebut.

Dari informasi yang dihimpun MalangTIMES, pelaku sebenarnya sudah menjadi seorang bapak rumah tangga. Selain sudah beristri, pria 32 ini juga sudah dikaruniai seorang anak. Parahnya, sang istri saat ini tengah mengandung anak keduanya, dan sudah menginjak usia kehamilan delapan bulan.

Ketika dimintai keterangan dihadapan penyidik, Wahyudi mengaku jika selama ini pihaknya telah menjalin hubungan asmara dengan Jelita, yang notabene masih tetangganya sendiri.

“Kami selama ini menjalin hubungan pacaran karena sama-sama mencintai. Kami menjalin hubungan asmara selama tiga tahun ini,” kata Wahyudi dihadapan penyidik, Rabu (23/1/2019).

Hubungan perselingkuhan yang dilakukan seorang kuli bangunan ini, tidak hanya berhenti di status pacaran saja. Pelaku justru mengexplore cinta terlarang tersebut, dengan melakukan hubungan badan.

Kepada korban, Wahyudi menjanjikan akan bertanggungjawab dan siap menikahi korban. Jelita yang masih remaja, hanya bisa menuruti apa yang diinginkan pelaku.

Hingga akhirnya, hubungan badan selayaknya suami istri itu terjadi sejak pertengahan 2017 lalu. Sejak saat itu, Wahyudi terus menerus meminta “jatah” kepada Jelita hingga bulan Maret 2018 lalu. “Hubungan badan yang terakhir itu, kami melakukannya di Kebun Sengon yang berada di Desa Jatisari, Kecamatan Tajinan,” sambung Wahyudi.

Benih “cinta” terlarang yang ditanam Wahyudi, ternyata berbuah hasil. Jelita diketahui terlambat datang bulan, lantaran mengandung janin dari perbuatan pelaku.

Semula Jelita berusaha menutupi kehamilannya. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi perut yang semakin membuncit tak bisa dihindari lagi.

Mungkin karena takut ketahuan, seorang remaja yang polos ini, memutuskan untuk kabur dari rumah pada bulan November 2018 silam. Saat itu, gadis belasan tahun tersebut, menyusul kekasihnya yang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta.

Selama dua bulan di ibu kota, Jelita tinggal bersama pelaku di sebuah rumah kontrakan. Hingga akhirnya, pada akhir bulan Desember 2018, Jelita yang saat itu sedang hamil tua dan persiapan untuk persalinan. Diantarkan pelaku untuk pulang kerumahnya yang ada di Kabupaten Malang.

Setibanya dirumah, keluarga korban yang merasa curiga, lantas mencerca Jelita dengan berbagai pertanyaan. Merasa terdesak, korban lantas menceriakan semua tragedi memilukan yang dialaminya.

Belakangan diketahui, keluarga korban semula berupaya untuk menagih janji manis yang dilontarkan kepada putrinya. Namun, hingga Jelita melahirkan anak laki-laki dari hubungan terlarang dengan Wahyudi. Tersangka justru menghilang tanpa kabar.

Tidak terima, pihak keluarga Jelita kemudian melaporkan pelaku ke Polres Malang. Mendapatkan laporan, beberapa personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan pelaku.

“Tersangka kami amankan saat bekerja menjadi kuli bangunan di kampung sekitar tempat tinggalnya, Rabu (23/1/2019),” kata Kanit Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana, kepada MalangTIMES.

Yulistiana menambahkan, hingga saat ini, polisi masih terus mendalami kasus persetubuhan yang melibatkan anak dibawah umur tersebut. Selain menghimpun keterangan dari pelaku dan korban, penyidik juga masih memburu keterangan dari beberapa saksi.

“Dari keterangan yang dihimpun penyidik, pelaku selama menyetubuhi korban, menjanjikan akan menikahinya. Namun hingga melahirkan, itikat baik itu tak kunjung dilakukan pelaku. Akibat perbuatannya, tersangka kami jerat pasal 81 Juncto 76 D Undang-undang nomor 35 tahun 2014. Ancamannya 15 tahun kurungan penjara,” tutup Yulistiana.

 

End of content

No more pages to load