Pasukan elit Sengguruh yang terkenal sebagai wilayah pendidikan militer zaman kerajaan akhir Majapahit (Ist)

Pasukan elit Sengguruh yang terkenal sebagai wilayah pendidikan militer zaman kerajaan akhir Majapahit (Ist)



MALANGTIMES - "Kosongkan kerajaan, pergilah. Biarkan mereka masuk ke kota,". Begitulah mimpi Sunan Dalem, penguasa Giri saat bertemu ayahnya yaitu Prabu Satmata (Sunan Giri I). 

Mimpi tersebut dipicu dengan adanya pasukan elit dari Kerajaan Sengguruh (abad XVI). Salah satu kerajaan yang tercatat pernah melengkapi kejayaan Malang masa lalu setelah Kanjuruhan (abad VIII), Mataram masa pemerintahan Pu Sindok (abad X), Singhasari (abad XIII), dan Majapahit di Tumapel dan Kabalan (abad XIV-XV).

Pasukan elite Sengguruh yang merupakan penutup kejayaan Kerajaan Majapahit, saat itu melakukan ekspansi ke Lamongan. Pertempuran terjadi dan dimenangkan oleh pasukan Sengguruh di bawah kepemimpinan Adipati Sengguruh yang memiliki nama Arya Terung.

Ekspansi dilanjutkan ke Giri. Pasukan elite yang telah ditempa dengan berbagai keahlian kanuragan dan strategi perang di wilayah yang tercatat pernah menjadi padepokan besar di zaman Majapahit. Padepokan yang difungsikan sebagai tempat pendidikan kanuragan dan pendidikan strategi perang ini telah tercatat sejarah sebagai wilayah penghasil tentara elite di masanya.

Hal ini dicatat dalam berbagai kitab, baik di Serat Kandha, Babad Sangkala, Babad Tanah Gresik, naskah Trah Brawijaya V Tedhak Pusponegaran dan beberapa tulisan dari peneliti seperti de Graaf dan Pigeaud (1986).

Wilayah tersebut terkenal juga sebagai tempat tinggal para Kesatria atau Panji. Sehingga saat itu, sebutan orang-orang yang akan menuju wilayah tersebut akan mengucapkan, "Ayo ke Sang Guru,". Ucapan tersebut akhirnya berkembang dalam masyarakat dengan pelafalan yang menunjuk pada nama Sengguruh. Sampai saat ini.

Maka, tidak heran gemblengan di Sengguruh yang akhirnya diberi wewenang menjadi kerajaan kecil, bagi para prajurit telah melahirkan pasukan-pasukan tempur elite.

Lamongan runtuh dan pasukan Sengguruh memasuki Giri. Sunan Dalem yang mendapat mimpi dari ayahnya tidak ingin terjadi pertumpahan darah lebih banyak lagi. Maka, dirinya memerintahkan Jagapati kepala pasukan untuk menghentikan peperangan dan meninggalkan Giri.

Melihat lawan meninggalkan palagan, pasukan Sengguruh terus merangsak masuk. Sampailah mereka di kompleks makam Prabu Satmata atau dikenal sebagai Sunan Giri I. Adipati Sengguruh bermaksud untuk menguasai utuh Giri dengan menguasai makam sang Sunan Giri I. Juru kunci makam Sunan Giri I bernama She Grigis ditebasnya hingga mati.

Di saat itulah terjadi sebuah peristiwa tidak masuk akal bagi pasukan Sengguruh dan Adipatinya yang memimpin serangan. Sekawanan lebah keluar dari makam dan menyengati pasukan Sengguruh itu hingga mereka lari tunggang langgang. Seperti yang diceritakan oleh  Agung Cahyo Wibowo, yang konsen melalui berbagai media menuliskan sejarah Kepanjen dan sekitarnya.

Adipati Sengguruh dikisahkan disengati oleh raja lebah (tawon endhas) selama tiga hari hingga ia meratap-ratap bertaubat kepada Allah. Bahkan Adipati Sengguruh berujar bahwa Kanjeng Sunan Prabhu Satmata adalah wali yang agung.  Sejak peristiwa itu Adipati Sengguruh sangat hormat kepada Prabhu Satmata. Seperti diceritakan dalam Babad Ing Gresik. 

Rasa hormatnya diperlihatkan dengan memeluk agama Islam dan setiap tahun sekali Adipati Sengguruh bersama balatentaranya berziarah ke Giri untuk berbakti kepada Prabhu Satmata.

Kekalahan Adipati Terung atau Adipati Sengguruh, menurut Tedhak Dermayuda, membuat beberapa daerah lainnya ikut takluk dan mengikui jejak Islam. Jaha, Wendit, Kepanjen, Dinaya, dan Palawijen masuk Islam karena para penguasanya ditaklukkan oleh Putera Sunan Giri.

Tentunya, perlawanan atas masuknya Islam di berbagai daerah yang dikenal sebagai wilayah Hindu tersebut, memicu perlawanan. Raden Pramana, putera Patih Majapahit dan Adipati di Pasuruan yakni Menak Supethak bergabung mengobarkan pemberontakan di Sengguruh. Pemberontakan tersebut didukung juga oleh  Adipati Dengkol, anak Menak Supethak, Adipati Panjer (Nila Suwarna) dan Adipati Srengat. Pertempuran pecah di Sengguruh yang dikenal sebagai wilayah para kesatria ini.

Sumber : Dari berbagai sumber diolah

End of content

No more pages to load