Proses pengerjaan lampion oleh warga Kampung Lampion (foto: Luqmanul Hakim/ MalangTIMES)
Proses pengerjaan lampion oleh warga Kampung Lampion (foto: Luqmanul Hakim/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Hari Raya Imlek masih empat bulan lagi, namun Kampung Lampion Jodipan Kota Malang sudah kebanjiran orderan. Bahkan orderan datang tak hanya dari warga lokal, namun dari luar kota maupun dari luar pulau.

Muhammad Said atau biasa dipanggil Mas Said, salah satu pengrajin lampion di Kampung Jodipan. Di rumahnya yang berada di daerah Jl. Ir Juanda Gang V, Jodipan Malang, pemuda tersebut menggarap lampion pesanannya.

"Sekali kirim ya seribu, dua ribu biji, tapi ada juga yang pesan cuma seratus," ujar Said saat ditemui di rumahnya.

Ia menuturkan jika kebanyakan pemesan memang dari luar kota, karena ia jarang menawarkan di warga lokal sebab sudah mengetahui ada kampung pembuat lampion di Malang. Pemesan lampion paling banyak tersebut kebanyakan dari Lombok, Kalimantan, Surabaya, dan Jakarta.

"Empat bulan sebelum Imlek, banyak pemesan dari luar kota sudah pesan, biasanya mereka langsung kasih depe, kadang separo total harga sudah dibayar dulu, jadi sudah full duluan, ga sempet ambil pesanan dari lokal," ujar Said.

Said mengerjakan lampion pesanan tersebut tak hanya sendirian. Ia mempekerjakan 5 orang anak buahnya yang juga dari warga kampung lampion untuk menyelesaikan pesanan tersebut. Namun jumlah pegawai yang diajak Said banyak sedikitnya tergantung jumlah pesanan yang datang.

Dalam sehari, satu orang bisa menghasilkan 30 biji lampion yang sudah jadi dan siap pakai. Berarti, dalam sehari minimal dia bisa menghasilkan 150 lampion yang siap pakai. Ia mengerjakan lampion mulai pukul 08.30 hingga sore pukul16.00 wib, kemudian dikerjakan lagi dari pukul 19.30 hingga 23.00 WIB. Untuk harganya sendiri dibandrol dari harga 12.000 rupiah untuk yang terkecil diameter 15 centimeter hingga harga 3,5 juta dengan diameter 3 meter.