KITAB INGATAN 41

Jan 20, 2019 08:10
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - br>Memintal Kamu 
*dd nana
1/
Sebelum kupu-kupu merelakan sayapnya untuk dicumbui angin.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Aku masih merayap di perutmu yang licin 
menancapkan segala pori di kulit kasapku ini.

Matamu terpejam, sesekali terbuka dengan tatap cemas. Hati-hati. Kulitku selicin lumut di batu sungai.

Percayalah, ucapku, cengkramku dilatih rindu gegas ini lebih tertib dari jarum waktu. Kau terengah, memejamkan mata. Serupa pasrah api menuju mati.

Tapi, aku sangat percaya, kau sedang merapalkan kisah-kisah purba. Kisah peralihan yang lebih dramatis dari mahabarata atau kisah cinta paling syahwat. 

Kisah yang akan melumat tubuh melataku di atas perut licinmu ini.

Menjadi sesuatu yang serupa mati. Sepi yang memanjang dan gelap yang punya warna-warni.

Aku merasa tak punya tubuh lagi dengan sengat tubuhmu yang perlahan-lahan mengeras kecoklatan. 

Kau yang kini menyelubungi dan memberikan sepi yang memanjang. Api yang menuju padam.

Sebelum kupu-kupu merelakan sayapnya untuk dicumbui angin.

Aku terbakar dalam sepi dalam rindu dalam waktu mati.

Bermimpi kembali bisa melata dan merayap di perut licinmu yang serupa lumut di bibir sungai.
Tetiba aku ingat sunan Kalijaga.

Itu sebelum kupu-kupu merelakan sayapnya untuk dicumbui angin.

2/

Memintal sepi di jemari yang tak lagi saling berbicara.

Jendela kamar yang dulu kerap tertutup, di huni sarang laba-laba.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Tak lagi ada yang saling menahan. Antara membukanya dan membiarkannya seperti sedia kala. 

Senda gurau yang membuat kita ingat masih menjadi manusia. Saat kita menemukan ruang untuk saling berbincang dan bercinta.

Segala yang tertutup dan hanya disinari remah cahaya yang kita butuhkan untuk istirah. 

Dari kewajiban yang entah tiba-tiba melingkar di jemari manis ku. 

Dari rutinitas yang membuat hati membatu dan tubuh ku kaku. Bahkan saat bercinta.

Maka, biarkan jendala itu tertutup, lelaki.
Aku masih memintal sepi di jemari yang kian menua.

Menatap remah-remah cahaya yang membentuk serpih parasmu yang dipulas merah dadu. 

Saat aku mulai membanjirimu dengan rindu.
Tak ada yang berbicara. Serupa jemari yang memintal sepi, kini.

3/

Aku yang lebih tabah pada waktunya.
Sambil menyembunyikan air mata dan meredam isak pada kisah-kisah yang sengaja diburamkan.
Agar waktu tak bisa membaca cengengku, kini.

4/

Aku ingin memintal kamu.
Serupa dedaunan membungkus para ulat yang melata.

Sampai kau terlihat bercahaya, walau akhirnya hilang di mataku yang semakin tua.

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatanruang sastra

Berita Lainnya

Berita

Terbaru