Personel Cokelat (dari kiri ke kanan) Ronny FN, Jakline, Edwin dan Axel.(Foto : Team BlitarTIMES)

Personel Cokelat (dari kiri ke kanan) Ronny FN, Jakline, Edwin dan Axel.(Foto : Team BlitarTIMES)



MALANGTIMES - Musik selalu menjadi hal yang dinamis dan berkembang seiring waktu. Sama halnya dengan fashion atau film, musik juga memiliki genre yang bermacam-macam. Dan genre tersebut terus berubah mengikuti zaman.

Ada kalanya kita dapat melihat bahwa musik rock/alternative rock sedang booming lalu dilanjut dengan genre musik pop, jazz, dan terakhir folk yang merajai industri musik Indonesia di tahun 2018. Dengan munculnya kanal di media digital, saat ini pula kita jadi bisa mendengarkan musik di mana pun dan kapan pun. Salah satunya di Youtube dan Soundcloud.

Band papan atas Indonesia asal Bandung, Cokelat, mengaku perubahan tren musik merupakan hal yang wajar. Cokelat sebagai band yang konsisten di jalur pop rock mengaku menerima keadaan ini karena hal ini merupakan situasi dunia yang sulit untuk dibendung.

“Memang trennya sedang berputar, semuanya berputar. Itu tandanya berkesenian kita berjalan,” ujar Ronny Febry Nugroho, pencabik bas Cokelat, dalam bincang-bincang bersama BLITARTIMES, Jumat (18/1/2019) malam.

Senada dengan koleganya,  gitaris Cokelat Edwin menambahkan bahwa sebagai band yang telah berusia 23 tahun, Cokelat dalam perjalanan kariernya telah kenyang bersinggungan dengan tren musik populer yang terus berubah.

“Cokelat itu sudah 23 tahun dan sudah mengalami berbagai macam jenis tren. Jadi, kalau orang sekarang bicara tentang folk, terus kemarin ngomongin soal melayu, lalu kemarin lagi ngomongin R&B, pop dan segala macam, itu adalah tren-tren yang sudah kami lewati dengan karakter musik Cokelat yang seperti ini. Jadi, menurut saya, tren musik itu memang selalu dinamis. Kalau tren musik begitu-begitu saja, itu tandanya musik di negara itu nggak jalan, nggak hidup,” ungkapnya.

Konsisten dengan tema lirik lagu dan musik yang diusung, tanpa terpengaruh tren, Roni mengaku dia dan teman-teman bandnya terus berinovasi memperkuat karakter musik yang telah menjadi ciri khas Band Cokelat sejak awal kemunculannya.

“Sebenarnya kami sendiri bukan anti-tren dan kami juga bukan korban tren. Tapi buat kami pribadi, semisal saya pribadi punya signature sound dari bas saya. Saya berusaha, kalau menemukan alat baru, saya selalu berusaha menciptakan karakter baru. Tentunya karakter itu terbentuk bukan karena mau ganti karakter. Kami bikin eksperimen dan berkembang. Yang pasti saat berkembang, Will Smith itu salah satu contoh aktor yang karakternya kuat. Mau dia memerankan jadi presiden atau apa pun, dia itu pasti kuat dan ada Will Smith-nya. Dan Edwin pun juga demikian. Mau dia pake gitar 12 senar,  pasti dia tetap bersuara seperti Edwin. Begitu juga dengan saya , Axel dan Jackline,” imbuhnya.

Keberadaan Edwin dan Ronny sebagai dua personel asli Cokelat yang masih bertahan patut diakui menjadi faktor utama tetap bertahannya ciri khas warna musik Cokelat hingga saat ini. Di usianya yang sudah lebih dari dua dekade ini, Cokelat ingin terus berkarya di Industri musik Indonesia. Rencananya, tahun ini Cokelat akan meluncurkan album ke-9 dengan karakter musik Cokelat yang masih kuat dengan bumbu-bumbu yang inovatif.

“Kami selalu berupaya mempertahankan karakter. Misal seperti Ronny tadi bilang, bila Cokelat berubah menjadi sesuatu yang ekstrem, mungkin akan menghancurkan Cokelat. Mempertahankan karakter bukan berarti kami tidak berkembang. Ibarat di Cokelat, kami  masak nasi goreng. Kami  berkembang bikin nasi goreng kambing, nasi goreng sea food, kami nggak bikin gado-gado,” pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load