Sifat Tertutup Dapat Memicu Depresi, Dua Pekan 5 Kasus Bunuh Diri di Kabupaten Malang

MALANGTIMES - Bulan Januari di tahun 2019 ini, bisa dikatakan angka depresi masyarakat di Kabupaten Malang meningkat. Tidak jarang dari mereka yang mengalami tekanan kejiwaan itu, memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya.

Terbukti, dari data yang dihimpun MalangTIMES, pada bulan Januari ini, sedikitnya ada lima kasus bunuh diri. Diawali pada tanggal 7 Januari lalu, kasus bunuh diri terjadi di Kecamatan Bululawang. Diduga kuat korban depresi lantaran memiliki sederet riwayat penyakit kronis. Motif inilah yang mendasari Sugeng (75) untuk memilih gantung diri.

Hanya berselang hitungan jam, di hari bersamaan kasus serupa juga terjadi di Kecamatan Ngantang. Depresi yang berkelanjutan, membuat Sulikah (60)  mengalami gangguan jiwa, sehingga memilih untuk menceburkan diri kedalam sumur tua.

Lanjut, pada 17 Januari lalu, terdapat dua kasus bunuh diri. Pertama, terjadi di Kecamatan Singosari. Korbannya bernama Ahmad Subhan. Lantaran depresi karena himpitan ekonomi, membuat pria 41 tahun ini memutuskan untuk gantung diri.

Masih di tanggal yang sama, peristiwa gantung diri juga terjadi di Kecamatan Ngajum. Belakangan diketahui korbannya bernama Jayadi. Kakek 70 tahun itu, ditemukan tewas dalam kondisi gantung diri di kandang ternak miliknya.

Terbaru, peristiwa gantung diri lantaran depresi, terjadi di Kecamatan Wonosari. Adalah Isma’i, warga Desa Plaosan. Kakek 55 tahun itu, memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dekat gudang peralatan untuk mengurus mayat, di musala samping rumahnya. Motifnya sama, yakni frustasi karena memiliki sederet penyakit kronis.

“Tidak hanya di bulan ini saja, kasus serupa juga marak terjadi di tahun 2018 lalu,” kata Kasubsi Penanggulangan Bencana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang, Mudji Utomo.

Utomo menuturkan, pada tahun 2018 lalu, sedikitnya ada sekitar 20 kasus evakuasi mayat, yang diketahui meninggal secara tidak wajar di beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Malang.

Bergeser ke tahun 2017, kasus semacam ini juga marak terjadi. Pada tahun itu, sedikitnya PMI Kabupaten Malang sudah mengevakuasi mayat yang meninggal tidak wajar sebanyak 14 kasus. “Dari data yang kami himpun, pada tahun 2017 hingga 2018 Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) merupakan wilayah paling marak penemuan mayat yang mati tidak wajar. Yakni sebanyak lima kasus,” imbuhnya.

Terpisah, Dosen Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Putri Saraswati menuturkan, penyebab utama seseorang nekat untuk mengakhiri hidupnya, biasanya diawali karena depresi yang berlebihan. “Pelaku bunuh diri menunjukkan lemahnya sesorang dalam mengelola masalah yang dihadapinya. Sehingga, menjadikan seseorang stres berlebihan,” kata Putri kepada MalangTIMES, Jumat (18/1/2019).

Putri menambahkan, potensi bunuh diri yang ada di dalam diri seseorang, bisa disiasati dengan berbagai hal. Salah satunya dengan melakukan berbagai kegiatan positif di lingkungan sosial. Selain itu, pendekatan spiritual akan wawasan keagamaan dan keyakinan terhadap Tuhan, juga bisa menekan keinginan seseorang untuk bunuh diri.

“Saat ada masalah cobalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebab tidak ada masalah yang tidak bisa dihadapi. Pada dasarnya bukan hanya kita yang memiliki permasalahan, orang lain juga menghadapi berbagai masalah yang ada dalam kehidupan mereka masing-masing,” sambung Putri.

Jika ditelisik lebih jauh, kasus bunuh diri biasanya terjadi pada seorang laki-laki. Terbukti, pada lima kasus yang terjadi di dua pekan belakangan ini, semuanya dilakukan oleh pria.

Terkait hal ini, Putri beranggapan jika seorang pria memang memiliki kecenderungan lebih tertutup, jika dibandingkan perempuan. Akibatnya, ketika ada masalah, sifat tertutup semacam ini bakal berakibat stres yang berkepanjangan.

“Dari hasil penelitian, psikologis laki-laki memang cenderung tertutup. Sifat inilah yang dapat memicu stres. Selain itu, usia juga berpengaruh pada potensi seseorang untuk bunuh diri. Sebab, jika seseorang banyak pikiran, biasanya bakal memicu berbagai penyakit, yang berdampak pada depresi berkelanjutan,” pungkasnya.

Top