Transaksi tunai menggunakan uang pecahan besar. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Transaksi tunai menggunakan uang pecahan besar. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Masyarakat di wilayah Malang Raya mesti lebih waspada saat bertransaksi menggunakan uang pecahan besar seperti lembaran Rp 100 ribu atau Rp 50 ribu. Pasalnya, dalam masa kampanye Pemilu 2019 ini, indikasi peredaran uang palsu semakin besar. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang Azka Subhan Aminurridho mengungkapkan, momen Pilpres dan Pileg 2019 diprediksi membuat perputaran uang rupiah di tengah masyarakat semakin gencar. Sehingga, kemungkinan peredaran uang palsu (upal) juga tidak dapat dihindari. 

Baca Juga : Viral Surat Stafsus Jokowi untuk Camat, Dicoreti Bak Skripsi hingga Berujung Minta Maaf

Untuk itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang terus meningkatkan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah guna mengantisipasi peredaran uang palsu. "Potensi peredaran peredaran uang yang tidak sesuai dengan ciri-cirinya aslinya di Malang saat menjelang pemilu seperti saat ini cukup besar," ujar Azka. 

"Namun saya belum melakukan pemetaannya. Sejauh ini kita memang belum ada strategi khusus, yang jelas menguatkan sosialisasi," ungkapnya. Sosialisasi itu, sambung Azka, digelar di sejumlah lokasi seperti sekolah, pasar, dan perkantoran. 

Dia pun berharap agar masyarakat melapor jika menemukan uang palsu sehingga peredarannya bisa diredam. "Selain sosialisasi, kami juga akan berusaha menyediakan pecahan uang yang lebih banyak. Sama seperti ketika persiapan momen-momen tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri dan Natal," imbuhnya.

Berdasarkan data  KPwBI Malang, temuan uang palsu terjadi ketika menjelang pilwali  pada Mei 2018 lalu. Saat itu ada  893 pecahan uang palsu. Pecahan uang palsu tersebut terdiri dari berbagai pecahan. Namun pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu mendominasi temuan upal. 

Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19

Sedangkan tahun 2017, temuan upal di wilayah Malang sebanyak 5.385 lembar. Jumlah itu menurun dibandingkan tahun 2016 dengan temuan 6.320 lembar uang palsu.