Burung rangkong yang mulai punah di Malang Selatan. (Ist)
Burung rangkong yang mulai punah di Malang Selatan. (Ist)

MALANGTIMES - Alam telah memberikan kehidupan yang seimbang bagi manusia. Namun, manusia merekonstruksinya tanpa batasan dan di luar kewajaran.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

 Slogan pelestarian lingkungan hidup melalui berbagai program di pemerintahan tidak bisa mencegah kepunahan berbagai makhluk hidup yang juga menjadi penjaga alam selama ini.
Sebut saja rangkong. Burung yang masuk dalam keluarga Bucerotidae (julang, enggang, dan kangkareng) itu merupakan salah satu burung yang memiliki tugas alam melakukan regenerasi hutan sebelum berbagai program pelestarian lingkungan hidup digaungkan. 

Sayangnya, salah satu makhluk hidup, yang menurut peneliti rangkong dan hutan tropis bernama Margaret F. Kinnaird dan Timothy G. O’Brien disebut burung yang memiliki kesaktian menebarkan biji sehingga regenerasi hutan terjaga itu, semakin hari semakin menghilang dan punah. Padahal,  Indonesia habibat terbesar buring rangkong. Tak terkecuali di Kabupaten Malang.

Seperti diketahui, salah satu habitat rangkong adalah di Pulau Jawa. Malang Selatan pernah menjadi rumah burung rangkong yang memiliki kemampuan terbang sampai rentang 100 kilometer persegi.

Tercatat, pada tahun 1996-1997, di Malang Selatan dalam satu bulan, bisa kita jumpai kelompok burung rangkong rata-rata 15 kali. Tapi, saat ini keberadaan burung rangkong turun sangat drastis.

 Dari data survei yang dilakukan oleh Profauna Indonesia, keberadaan  burung rangkong berkurang sampai 60 persen sampai bulan Desember 2018 lalu di Malang selatan. Profauna hanya bisa menjumpai 6 kelompok burung dengan berat 290 sampai 4.200 gram tersebut. Itu pun dalam jumlah yang sangat kecil.

Biasanya satu kelompok burung rangkong berjumlah 12 ekor. Tapi dengan adanya berbagai kerusakan hutan, satu kelompok rata-rata hanya 4 ekor burung. 

"Penurunan jumlah perjumpaan tersebut  sebagai indikator bahwa populasi mereka juga menurun," kata Rosek Nursahid, ketua Profauna Indonesia, yang juga menegaskan, kondisi tersebut dikarenakan deforasi dan degradasi hutan di Malang Selatan.

Karena itu pula, bencana banjir dan longsor kerap menjadi peristiwa langganan di wilayah tersebut,. Salah satu faktornya adalah rusaknya hutan sebagai habitat burung rangkong yang mulai punah di Malang Selatan.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Profauna Indonesia melakukan survei di berbagai hutan habitat rangkong yang ada di enam kecamatan di Kabupaten Malang. Yakni, Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Bantur, Tirtoyudo dan Gedangan. Enam wilayah tersebut dulunya merupakan wilayah hutan subur dan menjadi habitat rangkong yang memang membutuhkan pohon yang tegap dan kuat untuk digunakan sebagai sarang. Pohon tersebut biasanya yang memiliki diameter 45 cm. 

Kini, riwayat burung rangkong, yang dulu misalnya bisa dijumpai dalam satu kelompok sejumlah 30 ekor di Lebakharjo, Kecamatan Ampeldaging, hanya jadi kenangan indah. "Hanya tinggal kenangan. Burung rangkong sebagai hewan dilindungi semakin sulit dijumpai. Kalau pun ada, populasinya sangat kecil," ujar Rosek.

Saat ini burung rangkong dalam jumlah kecil masih bisa dijumpai di beberapa wilayah. Yakni, di Hutan Sumberagung, Teluk Apusan, Kondang Merak, Balaikambang, Kondang Iwak, Alas Kondang Rowo, dan Gunung Gajah Mungkur. Juga di cagar alam Pulau Sempu yang menjadi salah satu habitat utama burung rangkong meski kini kondisinya juga telah mulai tercemar dan menjadi ramai sebagai lokasi wisata.

Kondisi tersebut tentunya hanya menunggu punahnya burung rangkong di Kabupaten Malang setelah berbagai hewan dilindungi lainnya pun telah banyak yang menghilang, seperti banteng, merak, elang Jawa, lutung Jawa dan macan tutul yang dulu masih banyak di hutan-hutan Malang selatan.

Para pihak pecinta lingkungan terus bergerak untuk menjaga terjadinya kepunahan tersebut. Kini, tinggal komitmen pemerintah daerah dalam upaya menguatkan proses pelestarian hewan-hewan langka dilindungi tersebut. Apalagi, Pemkab Malang memiliki komitmen dalam sektor lingkungan hidup yang tentunya bukan hanya sekadar mengeni sampah.

Jangan sampai semakin punahnya keberadaan burung rangkong terjadi seperti yang dialami oleh burung cucak ijo yang pernah jadi maskot Kabupaten Malang.

Butuh kepemimpinan yang memiliki visi dan kuat dalam menegakkan aturan dan kebijakan atas kehidupan berbagai kekayaan fauna yang ada di Kabupaten Malang. Tanpa adanya kepedulian serta kuatnya kepemimpinan di Kabupaten Malang atas hal tersebut, maka berbagai kekayaan fauna tersebut hanya akan diketahui dari buku atau cerita saja.