Fahri Hamzah dan puisi (Ist)
Fahri Hamzah dan puisi (Ist)

Bangun kesiangan. Pilihannya, melanjutkan tidur dengan cuaca murung di luar, atau bergegas ke kamar mandi

 Sebelum rayuan nyiur kelapa dalam kepala kembali menenggelamkan hasrat untuk beraktivitas.

Tenggelam dalam selimut hangat dan berdoa mendapatkan mimpi. 

Mimpi tentang secangkir kopi, tangkupan roti yang bersanding dengan baris-baris puisi. Mimpi yang aneh bukan?Bukan. 

itu jawaban saya. Mimpi yang saya minta datang dalam lelap saya itu sangatlah indah. 

Bayangkan, Anda di sebuah ruangan nyaman dengan cuaca sendu (perpaduan langit ingin menangis tapi malu untuk memperlihatkan air mata).

Ditemani secangkir kopi dan roti serta dilengkapi puisi. Anggap saja Anda juga dikurung dengan alunan lagu yang sangat disukai telinga. 

Saya akan memilih Star and Rabbit.

Maka, percayalah pagi menuju siang yang terlihat murung, dengan karib kopi, roti, alunan musik dan puisi adalah kemewahan tiada tara. Khususnya bagi saya. 
Kalau Anda mulai jemu, 

maka mimpikan saja Bang Fahri Hamzah. 

politikus yang juga gemar terhadap puisi, (mungkin) juga pecinta roti dan kopi. "Pagi-pagi, kopi dan roti. Tidur lagi," tulis Fahri di akun Twitternya.

Kenapa saya pakai Fahri? Jawabannya sederhana. Kalau pake Vanessa Angel menjadi sangat mustahil, walau itu dalam mimpi.

Dan saya belum pernah tahu sang Vanessa menulis puisi.

Maka, sekali lagi saya tegaskan, walau dalam mimpi, haram hukumnya bagi saya memimpikan sesuatu yang jauh untuk didatangkan.

Mimpi saya sebisa mungkin tidaklah terlalu fiktif-fiktif amat.

Kenapa saya sandingkan kopi, roti dan sang Fahri dalam hasrat mimpi? 

Karena saya sempat berkali-kali melihat dan membaca puisinya.

Ya, karena saya mungkin rindu dengan sosok politikus bermulut pedas, bergulat dalam kubangan kepentingan yang dinamakan politik.

Tapi, masih sempat menuliskan puisi.

Sebaik atau seburuk apapun hasil puisinya. Saya tertarik.

Walau sang Fahri menuliskan puisi untuk hal-hal terkait pekerjaannya sebagai seorang politikus.

Tapi, sekali lagi itu nilai "baik" bagi saya yang sempat bermimpi ingin menjadi penyair.

"Pak @aniesbaswedan selamat ulang tahun ke-49 ya./Jangan lupa dengan nafas dan gelombang yang membawamu ke atas Jakarta.

Sesekali renungkan ulang, jangan terjebak kesibukan kerja lalu lupa merenung dan muhasabah.

" Begitulah Fahri menuliskan pesannya kepada Gubernur Jakarta saat merayakan ulang tahunnya, beberapa waktu lalu.

Atau puisi kesedihan sang Fahri melihat karibnya Deddy Mizwar saat berada satu perahu dengannya. 

Fahri menyebut nama aktor kawakan yang tercebur ke dunia politik ini dengan sapaan Jie.

"Jie, Aku ikut memikul beban dan memapah luka kata-kata nostalgia kita...Tapi kau hebat Jie, simpanlah apa yang memar di hatimu...aku ikut menanggung...lima tahun lalu tak jauh, takkan kulupakan malam-malam merayu mu menjadi bagian dari perjalanan." puitis.

Itu sebagian kecil puisi yang ditulis Fahri. Atau sebut saja tulisan Fahri yang berbeda dengan apa yang sering kita lihat di berbagai media.

Sosok Fahri yang terlihat keras saat berbicara, dan berada di posisi berlawanan dengan apa yang dirasanya keterlaluan. 

Seperti yang kini kembali diperlihatkan oleh Fahri. Dirinya terus melawan terhadap apa yang dirasakannya keterlaluan.

Dan yang keterlaluan biasanya dimiliki para pemegang kekuasaan.

Lepas yang keterlaluan tersebut memang benar-benar terlalu atau hanya dirasa terlalu.

Saya tidak ingin menceburkan diri di dua kubu tersebut. Apalagi jadi kecebong dan kampret. Dua hewan yang kini jadi raja rimba dunia maya.

Kenapa Fahri yang lantang dan terlihat berisi kepalanya dalam setiap perdebatan, masih saja menuliskan puisi. 

Padahal dirinya berada di dalam kekuasaan itu sendiri. 

Apa yang Fahri cari di dalam puisinya yang terbaca melawan apa yang dirasakannya keterlaluan.

Saya mencoba meraba dalam mimpi, karena saya tidak kenal sang Fahri secara pribadi. 

Seperti saya tidak kenal dengan Jokowi ataupun Prabowo secara langsung, layaknya saya kenal dengan Paijo pemilik warkop di desa saya.

Maka, di ruang nyaman dengan cuaca murung serta ruam aroma kopi, roti dan puisi. Saya ajak sang Fahri bercakap-cakap. Dalam mimpi.

"Bang, emangnya kalau buat puisi untuk kritik pemerintah bisa lebih bertuahkah? Padahal Abang dengan vokalnya bisa langsung menghujamkan pisau kata-kata ke jantung kekuasaan?" tanya saya.

Fahri menyeruput kopi dan menjawab dengan puisi.

"Dan aku bermimpi tentang kau yang dulu berjanji. Akan setia dan menjadi diri sendiri.

Seperti saat sepimu dan sederhanamu dan lugumu. Dan nampaknya tulusmu, nampak masih asli.

Dalam balutan nurani, dalam  mimpi, di dalam balutan mimpi."
Saya memejam. Di dalam kepala berkeliaran kata-kata mimpi dari jawaban Fahri. Seperti saya yang sedang bermimpi.

"Kau belum terbangun dalam mimpiku...aku juga," lanjut Fahri.

Mimpi dan puisi. Kita masih bermimpi di tengah hiruknya orang-orang yang sedang bekerja tapi sebenarnya hanya menuntaskan hari seperti yang lalu-lalu. Rutinitas.
"Iya, kita sedang bermimpi.

Sebelum terbangun dan memetik hasil mimpi. Lewat puisi maka tentang mimpi bisa didekati. Lewat orasi, saya pikir masalah mimpi tidak bisa didekati dan didekap erat," ucap sang Fahri.

Puisi penjinak mimpi? Seperti kopi yang menjinakkan rasa sakit di kepala? Benarkah mimpi hanya bisa didekati puisi. 

Ataukah karena puisi itu adalah mimpi itu sendiri?
Apa karena puisi tidak bisa didekati aturan hukum, sehingga kritik kepada kekuasaan lebih nikmat disajikan melaluinya? Duh, banyak sekali pertanyaan dalam mimpi saya.

Saat kopi, roti dan sang Fahri menemani pagi menjelang siang yang murung ini.

Yang saya tahu, Fahri terlihat akrab dengan puisi. 

Yang saya tahu puisi yang seperti mimpi bagi kebanyakan kalangan adalah senjata yang juga menakutkan bagi kekuasaan.

Anda ingat WS Rendra atau yang paling tragis Wiji Thukul ? Melalui puisi di zamannya kekuasaan sangat takut kepada mereka.

Wajah puisi mereka terlihat garang di mata kekuasaan. Maka pelarangan pembacaan puisi sampai pada penghilangan penyairnya jadi solusi.

Di mata saya, waktu itu, puisi mereka adalah sihir yang memesona.

Serupa secangkir kopi lokal yang mengepulkan asap dengan aroma yang membuat kepala begitu lapang.

"Apa Abang juga menyusu mereka dalam melawan kekuasaan saat ini.

Melalui puisi sekaligus orasi-orasi menggelegar di berbagai podium itu?

" tanya saya kepada Fahri.

Tapi pertanyaan saya tidak terjawab. Sosok Fahri perlahan-lahan menjadi asap dan akhirnya menghilang di depan saya. Meninggalkan kopi dan puisi saya yang tidak jadi-jadi.

Dan saya terbangun saat sebuah pesan bertanya, "Sudah kirim berita pagi tah?".