Ilustrasi, penumpang tengah mengecek barang bawaan sebelum masuk ke ruang tunggu Bandara Abd Saleh Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Ilustrasi, penumpang tengah mengecek barang bawaan sebelum masuk ke ruang tunggu Bandara Abd Saleh Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Penghapusan bagasi gratis oleh sejumlah maskapai penerbangan disesalkan banyak pihak. Tak hanya para penumpang yang mesti merogoh kocek lebih dalam, dalam jangka panjang kebijakan itu berimbas pula pada perekonomian daerah. Terutama semakin berkurangnya pasar usaha kecil dan menengah (UKM).
 

Asociation Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Malang menilai kebijakan maskapai yang menghapus layanan bagasi gratis akan menimbulkan efek domino yang sangat panjang. Terutama yang paling berpengaruh adalah pelaku UKM yang ada di Malang.
 

Ketua Asita DPC Malang Raya Gagoek Soenar Prawito mengatakan, hal itu terjadi karena Malang merupakan salah satu daerah jujukan wisata. Artinya, salah satu roda penggerak perekonomian adalah UKM-UKM yang menyediakan beragam oleh-oleh dan cenderamata untuk dibawa pulang para pelancong. 
 

Menurut Gagoek, kebijakan penghapusan bagasi gratis itu membuat wisatawan cenderung mengurangi volume oleh-oleh yang dibeli. "Karena dari sisi kita di Malang, untuk membeli oleh-oleh kan menjadi berkurang. Sehingga itu sebetulnya akan mempengaruhi kondisi UKM-UKM yang ada di Malang juga nanti," ujarnya. 
 

Gagoek menyampaikan, kemungkinan besar wisatawan yang datang ke Malang akan mengurangi jatah oleh-oleh agar tidak terlalu membebani bagasi. "Misalnya orang yang biasa beli satu kardus (oleh-oleh) beratnya misal 10-15 kilo, ya nanti akan sangat berkurang. Mereka pasti tidak akan membeli banyak," kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Malang itu.
 

Selain itu, lanjutnya, kebijakan tersebut juga akan berimbas pada pengusaha-pengusaha domestik yang selama ini hidup dan berkembang dari bisnis pariwisata. "Pasti akan kena imbasnya," kata dia. Menurutnya, pengambilan kebijakan ini harus dibicarakan secara bersama-sama terlebih dahulu. "Tidak bisa diputuskan dari pihak penerbangan dan Departemen Perhubungan saja," tuturnya.
 

"Harus semua terkait, dari berbagai sektor dari dinas perdagangan, pariwisata kan banyak sekali yang berpengaruh," tambahnya. Menurut dia, kebijakan itu tidak bisa diputuskan secara sepihak. Pasalnya, selama ini pariwisata menjadi salah satu penyokong besar bagi industri penerbangan. "Asosiasi pariwisata ini kan sebenarnya jadi mitra penerbangan kan sudah berpuluh-puluh tahun sebenarnya. Tiba-tiba ada kebijakan seperti ini," lanjutnya.
 

Dia mengungkapkan, kebijakan ini hanya menguntungkan pihak-pihak penerbangan saja. Oleh karena itu, pihaknya akan mencoba untuk berkomunikasi dengan pihak penerbangan terkait kebijakan ini. "Kami akan berusaha mediasi dengan penerbangan, nanti strategi ke depan apa. Apakah ini hanya sesaat karena kondisi ekonomi, atau memang berkelanjutan. Kalau berkelanjutan kan kita harus mengambil sikap," terangnya. 
 

Bila kebijakan ini tetap diberlakukan secara berkelanjutan, Gagoek mengatakan jika hal ini sama saja dengan bunuh diri. Dalam artian, wisatawan bisa saja lebih memilih untuk berwisata ke luar negeri yang biaya pesawatnya lebih murah dan tanpa ditarik biaya bagasi. "Mereka lebih enjoy wisata luar negeri, karena tidak mengenakkan kondisi seperti itu. Wisata kan yang mempengaruhi penerbangan. Akhirnya (milih) penerbangan luar negeri," pungkasnya.
 

Seperti diketahui, sejumlah maskapai mulai memberlakukan bagasi berbayar bagi penumpang dengan rute domestik. Kebijakan itu awalnya diberlakukan oleh maskapai Lion Air, kemudian diikuti oleh maskapai Citilink. 

 

End of content

No more pages to load