Kepala Disperindag Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri menegaskan pihaknya terus melakukan tugasnya di tengah keterbatasan anggaran (dok MalangTIMES)

Kepala Disperindag Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri menegaskan pihaknya terus melakukan tugasnya di tengah keterbatasan anggaran (dok MalangTIMES)


Pewarta

Dede Nana

Editor

Heryanto


MALANGTIMES - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang tidak ingin melempar handuk atas persoalan sampah yang dikeluhkan warga di lokasi-lokasi pasar daerah.

Pun, tidak ingin lempar tanggungjawab kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang memiliki kewenangan dalam persoalan tersebut.

Disperindag tetap menjalankan fungsinya dalam persoalan sampah di pasar. 

Walaupun dengan kemampuan seadanya, baik personil kebersihan maupun alat angkut sampah itu sendiri.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Redjeki kepada MalangTIMES. 

Dirinya menegaskan, pihaknya terus melakukan fungsinya mengangkut sampah di berbagai pasar daerah yang ada.

"Tetap, walau dengan keterbatasan yang ada. Minimal sampah tidak sampai meluber ke jalanan," kata Pantjaningsih, Selasa (15/01/2019).

Selain melakukan aktivitas tersebut, Disperindag Kabupaten Malang juga telah berhasil menggolkan kebutuhan dari tingkat UPT Pasar yang jumlahnya 34 terkait persoalan sampah.

Yakni mengenai tenaga kontrak pasar yang saat ini jumlahnya dangat terbatas di setiap pasar daerah.

Walaupun, hanya bisa menggolkan 15 tenaga kontrak pasar yang nantinya secara khusus bertugas sebagai tenaga kebersihan di tahun 2019 ini. 

Padahal, kebutuhan tenaga kontrak pasar terbilang cukup banyak, khususnya untuk tenaga kebersihan.

"Sekali lagi kendala anggaran. Kalau ajuan dari UPT bisa melebihi 30 tenaga kebersihan yang masuk ke kantor. Tapi, anggaran tidak mencukupi," ujar Pantjaningsih yang kembali menegaskan, pihaknya terus melakukan yang terbaik falam menjalankan tugas dan fungsinya dalam persoalan sampah di pasar daerah. 

"Walau dengan berbagai kendala dan anggaran yang memang terbatas di pihak kita," imbuhnya.

Adanya 15 tenaga kebersihan tersebut, nantinya akan ditugaskan di pasar-pasar yang memang sangat membutuhkan adanya tambahan personel. 

Khususnya di pasar kelas 1 seperti Lawang, Singosari, Kepanjen maupun Gondanglegi dan lainnya.

"Ini sebagai upaya kita dalam persoalan pengelolaan sampah pasar," tegas Pantjaningsih.

Disinggung mengenai proses penyadaran pedagang pasar dalam perilaku membuang sampah saat beraktifitas. 

Pantjaningsih menyampaikan, sampai saat ini unsur kebiasaan masih lebih kuat dan dikedepankan oleh para pedagang dibandingkan dengan adanya aturan terkait buang sampah.

Dirinya bahkan mencontohkan, aturan buang sampah yang disisipi sanksi pun tidak membuat perilaku masyarakat jeri.

Pantjaningsih juga mencontohkan program LISA (Lihat Sampah Ambil) DLH pun di tataran aplikasinya masih belum bisa dijalankan di dalam masyarakat. 

"Jadi butuh sinergitas tentang pengelolaan sampah," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load