95 Ribu Warga Pasrah Hanya Pegang Suket KTP-Elektronik, Blangko Kosong Jadi Penyebabnya

Sri Meicharini Kepala Dispendukcapil Kabupaten Malang (Nana)
Sri Meicharini Kepala Dispendukcapil Kabupaten Malang (Nana)

MALANGTIMES - Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Malang kembali tersandung persoalan blangko KTP-el.

Kekurangan pasok dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membuat persoalan klasik KTP-el terus terjadi.

Blangko kosong kerap jadi momok bagi Dispendukcapil maupun masyarakat.

Persoalan kosongnya blangko KTP-el sampai akhir tahun 2018 di Kabupaten Malang telah membuat 95 ribu orang tidak bisa memilikinya.

Mereka harus pasrah dan berpuas diri hanya memegang surat keterangan (suket) pengganti KTP-el.

Target Dispendukcapil Kabupaten Malang untuk tidak kembali mengeluarkan suket pun, berantakan. Dengan kosongnya blangko KTP-el sampai saat ini. 

"Targetnya memang akhir tahun 2018 tidak ada lagi yang pegang suket. Tapi, karena blangko KTP-el yang menipis, kita akhirnya kembali menerbitkannya," kata Kepala Dispendukcapil Kabupaten Malang Sri Meicharini.

Rini, sapaan akrab Kadispendukcapil Kabupaten Malang, melanjutkan, bahwa di kecamatan blangko sudah kodong sejak akhir tahun.

Sehingga pihaknya kembali menerbitkan suket untuk pemohon baru maupun bagi yang memperpanjang masa berlakunya.

Menipisnya blangko KTP-el di Dispendukcapil, bisa kembali lancar sekitar minggu-minggu di bulan Januari 2019. 

Walaupun masih bersifat sementara, tapi Rini menegaskan, pihaknya memang sudah mengajukan permintaan tersebut kepada Kemendagri.

"Kita sudah mengajukannya. Mudah-mudahan minggu ini sudah bisa tersedia lagi blangko KTP-el serta mendapat tambahan secara jumlah," ujarnya yang menyebutkan pihaknya hanya akan mendapatkan 1.000 keping blangko.

Dikesempatan berbeda, beberapa warga yang senpat ditemui MalangTIMES, menyampaikan, bahwa mereka hanya pasrah saja mendapatkan suket sebagai pengganti KTP-el.

Hasanuddin (37) warga Gondanglegi menyampaikan, dirinya memang hanya bisa pasrah. 

"Mau gimana lagi, blangko katanya sudah kosong. Ya saya tunggu lagi nanti kalau sudah ada," ucapnya sambil memasukkan berkas suket ke tasnya.

Beberapa warga yang akan mengganti suket pun harus rela saat diganti lagi dengan suket lainnya.

"Blangko kosong di kecamatan. Kita diarahkan ke sini, ternyata juga kosong. Ya akhirnya dapat sehelai kertas lagi ini," ujar Marsudi (41) warga Turen yang akan mengganti suket menjadi KTP-el karena masa berlaku berakhir.

Walau terkesan kecewa, warga yang pasrah dan rela pun menyampaikan. 

"Yang penting ini bisa saya pakai sebagai identitas kependudukan. Walau tidak praktis dan tidak nyaman dibawa kemana-mana," ucap Marsudi.

Rini, kerap juga menyampaikan, baik secara langsung maupun lewat petugasnya untuk menyosialisasikan tentang posisi suket. 

"Suket sama fungsinya dengan KTP-el. Jadi masyarakat tak perlu risau," ujar mantan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Malang.

Disinggung, persoalan blangko yang kerap kosong atau menipis. Rini mengatakan, disebabkan adanya pemerataan pembagian blangko KTP-el di seluruh daerah. 

"Jadi blangko ada tapi untuk seluruh daerah di Indonesia. Karenanya distribusi dilakukan dengan pola semua terbagi ke daerah. Walaupun tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan," ucapnya.

Dirinya juga menyatakan, apabila blangko KTP-el sudah menipis, pihaknya langsung menyampaikan permohonan penambahan ke Kemendagri. "Jadi seperti itu yang kita lakukan," pungkas Rini.

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top