Saatnya Sejarah Desa Ditulis Satu Versi, Kuatkan Branding Wisata

Empat dari kiri : Made Arya Wedanthara Kepala Disparbud Kabupaten Malang bersama joko roro di suatu acara (Disparbud for MalangTIMES)
Empat dari kiri : Made Arya Wedanthara Kepala Disparbud Kabupaten Malang bersama joko roro di suatu acara (Disparbud for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keindahan serta kekayaan wisata Kabupaten Malang, tidak perlu diragukan lagi. Pemakaian branding The Heart of East Java, bukan sekedar strategi pasar tanpa bukti. Ratusan pantai dengan alam memesona mata, gunung, wisata air serta buatan, situs sejarah, semuanya ada di bumi Arema.

Pun, dengan berbagai kesenian tradisi yang dibalut dengan kayanya sejarah masa lalu. Sebagai embrio dari lahirnya desa-desa wisata saat ini yang hampir mencapai sekitar 100 desa wisata di Kabupaten Malang.


Maka, lengkaplah sebenarnya Kabupaten Malang sebagai wilayah dengan kekayaan luar biasa dari sektor pariwisata. Walaupun, masih banyak catatan-catatan dari berbagai kalangan terkait hal tersebut. Salah satunya adalah mengenai penguatan pariwisata desa melalui cerita sejarah yang berkembang di berbagai wilayah.

Cerita sejarah maupun adat istiadat lokal ratusan tahun yang masih hidup di berbagai wilayah merupakan aset besar dalam kepentingan sektor pariwisata. Pasalnya, dengan adanya berbagai peninggalan sejarah yang tercatat akan semakin memperkuat rasa penasaran wisatawan.

Wisatawan berkunjung ke lokasi wisata dikarenakan rasa penasaran terlebih dahulu. Baik penasaran dengan cerita keindahan alam, keunikan budaya serta hal lainnya yang didapatkan dari berbagai media.
 

"Untuk memuaskan rasa penasaran tersebut tentunya perlu ada konsep. Khususnya mengenai sejarah, budaya dan lainnya. Konsep tersebut wajib tercatat sebagai bagian penguat di sektor pariwisata. Pencatatan ini yang seharusnya seragam di suatu lokasi wisata desa," kata Made Arya Wedanthara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Senin (14/01/2019).

Seragam pencatatan sejarah dalam berbagai media nantinya, masih menurut Made Arya, agar tidak terjadi kebingungan bagi wisatawan yang datang ke wisata desa tertentu. Misalnya, di Desa Wisata Ngadas, Poncokusumo.
 

"Saat wisatawan ke wisata desa, mereka mendapatkan satu pengertian atas sejarah, budaya, adat, yang dicatat secara seragam di wilayah tersebut. Jadi seragam dan tidak membuat bingung wisatawan yang mendapat informasi tersebut. Baik dari pengelola homestay yang menyediakan berbagai media informasi maupun dari lainnya," urainya.

Penyeragaman pencatatan potensi wisata berupa nilai-nilai masa lalu tersebut juga sempat dilontarkan oleh Sekretaris Badan Kehormatan sekaligus trainer Destination Management Organisation (DMO) Flores, Ferdinand Radawarah beberapa waktu lalu saat mengunjungi  Desa Wisata Ngadas.

Ferdinand menyampaikan, bahwa cerita dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat menjadi kunci tersendiri untuk menarik wisatawan. Tapi, lanjutnya, dirinya khawatir jika nilai-nilai masa lalu tersebut, satu sama lainnya berbeda di satu lokasi wisata.
 

"Kalau ini yang terjadi akan membuat wisatawan bingung dan akhirnya tidak percaya atas nilai-nilai masa lalu yang disampaikan," ucapnya. "Jadi saya sarankan agar masyarakat membuat sebuah buku saku sebagai landasan dalam membuat cerita. Cerita dari nilai-nilai tersebut diseragamkan di wilayah wisata tersebut," imbuh Ferdinand.

Untuk melakukan hal tersebut, keberadaan homestay yang dkelola oleh masyarakat setempat, perlu disentuh dan dikuatkan dalam pemahaman tersebut. Pasalnya, berbagai informasi tentang potensi sejarah, budaya dan lainnya, di wisaata desa lebih banyak disebarkan di berbagai homestay.

Made Arya mengatakan, homestay memiliki potensi besar dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Karena itu Disparbud Kabupaten Malang berharap banyak dengan keberadaan homestay. Baik secara kuantitas yang sampai saat ini masih sekitar 358 unit. Sampai pada penyediaan informasi tertulis mengenai berbagai potensi wisata khususnya mengenai sejarah desa melalui buku maupun media lainnya.
 

"Harapannya di satu desa wisata hanya ada satu branding. Branding wisata tersebut harus seragam dan basisnya desa. Untuk homestay di desa wisata jadinya tak memiliki brandnya sendiri. Melainkan menggunakan brand desa itu sendiri," ujar Made Arya.

Pria asal Bali ini juga menyampaikan, pihaknya akan terus melakukan penguatan kepada masyarakat maupun kelompok sadar wisata (pokdarwis) dalam kaitannya dengan hal tersebut.

Selain pihaknya berharap dengan geliat pariwisata berbasis desa di Kabupaten Malang yang sangat luar biasa, bisa juga diimbangi dengan adanya penambahan homestay. "Harapan kita ada penambahan homestay di desa-desa wisata. Target kita tahun ini sebanyak 500 unit. Semoga bisa terealisasi dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan," pungkas Made Arya.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top