Para petugas di loket Kantor Pos Malang tengah melayani warga yang akan mengirim barang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Para petugas di loket Kantor Pos Malang tengah melayani warga yang akan mengirim barang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Barang ilegal masih banyak ditemukan di wilayah Malang Raya sepanjang 2018 lalu. Indikasinya, barang-barang tersebut sebagian masuk melalui jasa pengiriman. Kantor Pos Malang pun bakal memperketat pengawasan paket barang menggunakan sistem sinar X atau X-Ray karena pada 2018 lalu ada 173 paket berisi barang ilegal yang disita Bea Cukai Malang.

Barang yang masuk maupun dikirim memakai jasa pos bakal melewati mesin scan tersebut. Kepala Kantor Pos Malang Agung Janarjono mengungkapkan, pemeriksaan ekstra itu sebagai bentuk dukungan terhadap kerja Bea Cukai Malang. "Pencegahan peredaran barang ilegal ini menjadi komitmen bersama. Kami terus meningkatkan pengawasan barang, salah satunya menggunakan X-Ray," ujarnya.

Menurutnya, selama tahun 2018 sebanyak 173 barang melalui kiriman pos disita oleh Bea Cukai Malang. Jenis barang terlarang yang masuk beragam, mulai rokok, kosmetik, obat-obatan, serta barang lainnya. Rata-rata merupakan barang impor. "Barang impor cukup banyak masuk, mayoritas dari Cina," tuturnya. 

"Sehari rata-rata proses kiriman luar negeri mencapai 100 item. Apalagi saat ini tren belanja online yang tidak hanya dari  dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Meningkatnya kiriman dari perdagangan online ini juga membuat kita harus memperketat pengawasan barang-barang yang masuk," ungkap Agung. 

Tak hanya barang, Kantor Pos Malang juga melakukan pengawasan terhadap dokumen yang dikirim melalui kantor pos. Jika ada dokumen yang masuk kategori membahayakan, maka dokumen tersebut akan masuk daftar barang cegah tangkal. Dokumen itu nantinya juga akan dimusnahkan seperti barang yang dianggap berbahaya.

"Dokumen ini ditangkal karena dianggap bisa membahayakan negara. Misalnya dokumen berasal dari negara komunis, dokumen yang diduga berisi isu SARA, ujaran kebencian, termasuk pornografi," pungkasnya.

End of content

No more pages to load