Menara Gereja Hati Kudus di kawasan Kayu Tangan, Kota Malang, ini dalam sejarahnya tercatat pernah ditabrak oleh pesawat TNI AU. (Dokumentasi Disbudpar Kota Malang).

Menara Gereja Hati Kudus di kawasan Kayu Tangan, Kota Malang, ini dalam sejarahnya tercatat pernah ditabrak oleh pesawat TNI AU. (Dokumentasi Disbudpar Kota Malang).



MALANGTIMES - Kota Malang memiliki sebuah bangunan gereja tertua yang dapat dikatakan merupakan warisan kolonial Belanda. Gereja itu adalah Gereja Hati Kudus yang terletak di Jalan Basuki Rahmat atau yang lebih dikenal sebagai kawasan Kayu Tangan.

Gereja bergaya gothic ini memang cukup menarik perhatian. Terletak di jantung kota, gereja yang dibangun pada tahun 1905 ini juga memiliki sejarah panjang. Bahkan, pada 1967, menara bangunan yang menjulang tinggi itu pun runtuh hingga akhirnya kembali dibenahi seperti semula.

Sekretaris tim ahli cagar budaya Agung H. Buana menyampaikan, menara gereja tertua di Kota Malang itu dibangun secara utuh pada sekitar 1930 dengan ketinggian mencapai 33 meter. Pasca-dibangun secara utuh itu, menara cantik gereja tersebut sempat runtuh sebanyak dua kali.

Pertama terjadi pada 10 Februari 1957. Saat itu menara runtuh ketika sedang ada khotbah di dalam gereja. Sebuah salib di ujung menara runtuh dan menimbulkan lubang besar pada atap gereja.

Kedua terjadi pada 27 November 1967. Menara kembali runtuh akibat ditabrak sebuah pesawat TNI AU. Pesawat itu disebut mengalami kerusakan dan jatuh di kawasan Buring.

Lebih jauh Agung menjelaskan, bangunan gereja tersebut menunjukkan ciri khas bangunan di era abad ke-19. Tampak dari struktur bangunan, juga desain eksterior dan interiornya. Pintu dan jendela gereja tersebut berukuran besar dengan konstruksi skeleton yang merupakan ciri khas bangunan abad ke-19.

Selanjutnya pada bagian kanan dan kiri bangunan  terdapat tangga-tangga untuk naik ke lantai dua. Dari kedua tangga itu, tampak dua menara yang bisa dilihat dari gereja bergaya neogothik.

"Dulu, altar dari gereja ini dibuat dari kayu yang dipesan dari tukang kayu China di Surabaya dan didesain oleh arsitek asal Belanda. Tapi sejak 1965, altar tersebut sudah tidak digunakan lagi," ungkapnya.

Agung menerangkan, ciri khas bangunan gothik dari gereja tertua di Kota Malang itu dapat dilihat melalui lengkungan meruncing pada gereja. Selain itu, bangunan bersejarah ini juga dikatakan memiliki pengaruh bangunan Islam zaman Bani Umayyah yang berkuasa di Suriah.

"Dapat dilihat dari sisa reruntuhan bangunan kuno di Ramlah, Uni Emirat Arab. Kemudian, baru pada abad 12, gaya lengkung runcing masuk ke Eropa, tepatnya Prancis," jelasnya. 

End of content

No more pages to load