MALANGTIMES - Minuman keras (miras) kembali menjadi penyebab seseorang dijebloskan kedalam tahanan. Bukan karena mengedarkan atau memproduksi miras. Namun tiga warga Desa Jeru, Kecamatan Tumpang ini, harus meringkuk dalam jeruji tahanan Polsek Poncokusumo, karena kasus penganiayaan.

“Moh Alfi Azizi (18), Andi Ardiansyah (17), dan M Zaini Saiful Islam (18), kami amankan karena terlibat kasus penganiayaan dan pengeroyokan,” kata Kanitreskrim Polsek Poncokusumo, Aiptu Andik Risdianto, Rabu (9/1/2019).

Dari pendalaman MalangTIMES, kejadian pengeroyokan ini dialami oleh Honi Kurniawan warga Desa Pajaran, Kecamatan Poncokusumo. Saat itu korban sedang menyaksikan jaran kepang yang diadakan disekitar rumahnya, pada 26 Desember 2018 lalu.

Saat asik menikmati hiburan rakyat itulah, korban tiba-tiba dihampiri tiga tersangka. Tanpa basa-basi, ketiganya lantas mengeroyok Honi hingga babak belur.

Merasa tidak terima, peristiwa ini lantas dilaporkan ke Polsek Poncokusumo. Beberapa personel langsung dikerahkan untuk melakukan penangkapan.

Setelah sempat menjadi buron sekitar satu pekan. Ketiga tersangka akhirnya berhasil diamankan di rumah mereka masing-masing, Kamis (3/1/2019).

“Selain tiga orang tersangka, petugas juga menyita satu buah asbak yang digunakan sebagai sarana untuk menganiaya,” sambung Andik.

Dihadapan penyidik, tiga remaja itu mengakui semua perbuatannya. Dari penuturannya, tersangka mengaku jika pengeroyokan yang mereka lakukan bermotif dendam.

“Beberapa hari sebelum menganiaya korban, tersangka dipergoki temannya (Honi) di kediamannya. Saat itu pelaku merasa malu karena ketahuan dalam kondisi mabuk. Merasa tidak terima, ketiganya lantas mengeroyok korban,” terang Andik.

Andik menambahkan, selain meminta keterangan beberapa saksi. Polisi juga melakukan pendalaman dari hasil visum, yang keluar beberapa hari lalu. Dari proses penyidikan petugas, ketiganya terbukti melakukan tindakan penganiayaan.

“Akibat perbuatannya, ketiga tersangka dijerat pasal 170 KUHP, tentang penganiayaan dan pengeroyokan. Dengan ancaman penjara lebih dari lima tahun,” ujar Andik.