Budi Eistiyo tersangka persetubuhan anak kandung saat digelandang ke UPPA Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Budi Eistiyo tersangka persetubuhan anak kandung saat digelandang ke UPPA Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Cucuku Ternyata Anak Kandungku. Mungkin itu judul yang tepat untuk menggambarkan perbuatan Budi Eistiyo, jika dikisahkan dalam FTV (Film Televisi) yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu.

Apa yang dilakukan warga Dusun Sumberwangi, Desa Tirtomarto, Kecamatan Ampelgading ini, memang bikin geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, seorang anak yang harusnya dilindungi, justru dijadikan objek pelampiasan nafsu birahi oleh Budi.

Dari informasi yang dihimpun MalangTIMES, korban yang bernama Jelita (samaran), merupakan anak semata wayang tersangka dengan istri pertamanya. Dikarenakan ada suatu permasalahan, membuat Budi harus bercerai dengan ibu kandung korban.

Berselang beberapa tahun kemudian, pria 41 tahun itu,  kembali membina rumah tangga dengan perempuan lain. Sedangkan Jelita diajaknya tinggal bersama ibu tirinya.

Dari pendalaman penyidik, pelaku sudah melakukan hubungan intim dengan putri kandungnya selama lima kali. Pertama, nafsu birahinya diluapkan kepada Jelita pada akhir 2017 silam. Bahkan perbuatan serupa terus dilakukan tersangka hingga pertengahan tahun 2018.

Perempuan yang kini berusia 17 tahun tersebut, selama ini hanya bisa pasrah “melayani” orang tuanya sendiri. Sebab, tersangka mengancam bakal memukul korban jika tidak bersedia melayani nafsu birahinya.

Kelima aksi persetubuhan yang dialami korban, selalu dilakukan pada malam hari. Ketika ibu tiri Jelita sudah terlelap dari tidurnya. Tersangka yang saat itu “nyuut” langsung menghampiri anak kandungnya.

“Istri saya (ibu tiri korban) tidur di kamar belakang. Ketika dia sudah terlelap, saya menyetubuhi Jelita di ruang tengah depan televisi. Semua persetubuhan itu selalu berakhir hingga orgasme,” terang Budi saat dimintai keterangan penyidik.

Merasa “eneg” korban kemudian memutuskan untuk pergi merantau ke Surabaya. Perbuatan ayah Jelita baru terbongkar setelah pihaknya menyadari jika dia tengah mengandung anak dari ayah kandungnya sendiri. Merasa depresi, korban akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.

Setibanya di Kabupaten Malang, korban yang merasa gundah, memberanikan diri untuk menceritakan kisah pilu yang dialaminya kepada neneknya. Dari pengakuannya, Jelita mengaku tengah hamil enam bulan.

Merasa tidak terima, nenek korban melaporkan pelaku ke Polres Malang. Mendapat laporan, beberapa personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan tersangka. “Kami berkoordinasi dengan Polsek Ampelgading, pelaku kami tangkap saat berada dirumahnya,” kata Kanit Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana, Senin (7/1/2019).

Ketika diringkus akhir pekan lalu, Budi hanya bisa pasrah dan mengakui perbuatannya. Hingga kini, polisi masih mendalami kasus yang dialami Jelita. Selain memeriksa beberapa saksi, penyidik juga masih mendalami hasil visum.

“Tersangka dijerat pasal 81 Juncto 76 D Undang-undang nomor 35 tahun 2014, tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Selain itu pelaku juga dikenakan pasal 46 Undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT. Ancamannya kurungan penjara lebih dari 15 tahun,” ujar Yulistiana.