MALANGTIMES - Konsep wisata halal terus diperkuat Pemerintah Kota Malang. Salah satu alasannya, wisatawan muslim, utamanya dari Timur Tengah yang berkunjung ke Indonesia, jumlahnya bertambah secara signifikan. Sehingga dari jumlah yang terus bertambah itu, setidaknya ada yang tertarik dan terjamin saat memilih Kota Malang sebagai destinasi wisata mereka.

Wali Kota Malang Sutiaji menjelaskan, tahun 2020, diprediksi persebaran turis muslim di dunia mencapai 180 juta orang atau naik 9,08 persen dibandingkan  2014. Jika 10 persen dari angka persebaran itu masuk ke Indonesia, maka dalam satu tahun ada sekitar 18 juta turis muslim yang ke Indonesia.

"Kalau saja lima persen saja kita tarik, maka potensinya 60 ribu turis muslim yang masuk ke Kota Malang. Dan berapa banyak perputaran uang mereka, tentu sangat besar. Maka potensi ini harus ditangkap," katanya kepada wartawan.

Pria berkacamata itu juga menyampaikan, wisata halal menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan dari negara Islam. Sebab, bukan hanya keindahan alam yang mereka nikmati. Turis muslim tentu sangat menghendaki kenyamanan bagi mereka saat berwisata dan beribadah.

Itu sebabnya, Pemerintah Kota Malang kembali berbenah dan memantapkan proses pembangunan wisata halal. Sederet rumah makan sudah dibina untuk memastikan suguhan olahan yang halal dan tidak dilarang dalam ajaran Islam.

Begitu juga dengan tempat menginap yang harus memenuhi standar syariah. Termasuk  ruang publik yang juga harus mempresentasikan daerah wisata halal.

Lebih jauh Sutiaji menerangkan, saat ini sudah ada beberapa rumah makan hingga hotel yang berstandar wisata halal. Sementara yang belum terus didorong untuk menerapkan konsep wisata halal. Soalnya, potensi wisata halal cukup besar untuk dikembangkan dalam jangka menengah maupun panjang.

Selain memberi sosialisasi,  juga sudah dilakukan penertiban  tempat-tempat hiburan malam. Termasuk peredaran minuman keras (miras) atau minuman beralkohol  yang terus dalam pantauan di Kota Pendidikan ini.

"Harus halal beneran dari proses hingga penyajian. Utamanya kuliner. Jadi, bukan hanya sekadar label," tutup pria yang akrab disapa Pak Aji itu. (*)