Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang saat melakukan inspeksi komoditas pangan jelang Natal 2018. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang saat melakukan inspeksi komoditas pangan jelang Natal 2018. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Inflasi tahunan Kota Malang pada 2018 mengalami penurunan dibanding periode yang sama pada 2017 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat, sepanjang Januari hingga Desember 2018, kota pendidikan itu mengalami inflasi sebesar 2,98 persen. Sedangkan inflasi bulanan per Desember sebesar 0,65 persen. 

Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang Dwi Handayani Prasetyowati mengungkapkan, inflasi yang terjadi pada akhir 2018 ini lebih tinggi dibandingkan angka Jawa Timur (Jatim). "Untuk Jatim, Desember mengalami inflasi 0,60 persen, dan inflasi tahunan 2,86 persen. Kota Malang masih lebih tinggi, karena ada kota-kota lain di Jatim yang inflasinya lebih rendah, jadi rata-ratanya relatif rendah," tuturnya. 

"Desember tahun ini juga sedikit lebih tinggi dibanding 2016 dan 2017 lalu," tambahnya. Dwi menguraikan, pada Desember 2016 angka inflasi yakni 0,58 persen dan pada 2017 0,49 persen. Sedangkan inflasi kalender atau tahunan, turun dari 2017 yang berada di angka 3,75 persen. "Juga masih di bawah target Bank Indonesia (BI) yang memperkirakan inflasi tahunan sekitar 3,2 persen," tuturnya. 

"Intinya TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) Kota Malang berhasil mengendalikan inflasi, ini harus diapresiasi," tambahnya. Hal tersebut dinilai membuktikan tim gabungan itu bisa mencegah adanya kenaikan harga komoditas-komoditas kebutuhan masyarakat sehingga daya beli terjaga. 

Untuk inflasi Desember, lanjut Dwi, kelompok bahan makanan memiliki andil paling besar yakni 1,49 persen. Selain itu, kelompok transportasi menyumbang sebanyak 1,3 persen yang disusul dari kelompok sandang yang naik sebanyak 0,37 persen. "Yang terpantau itu nasi dengan lauk seperti lalapan, nasi rames, nasi bungkus. Tapi ini bisa ditengarai hal positif, karena kan yang bisa memproduksi itu masyarakat dan yang membeli itu pengunjung atau warga pendatang," tutur perempuan berkacamata itu. 

Dwi juga merinci 10 komoditas utama penyumbang inflasi Desember 2018. "Paling tinggi itu angkutan udara yang mengalami kenaikan harga sebesar 10 persen dengan andil 0,21 persen. Mengingat kan kemarin musim liburan akhir tahun ya, jadi traffic-nya naik dan maskapai-maskapai rata-rata menerapkan harga tiket sesuai batas atas tarifnya," paparnya. 

Komoditas-komoditas lain yang berimbas pada inflasi Desember yaitu, telur ayam ras, mujair, dan daging ayam ras. "Kalau daging ayam kan rasanya bukan dari Kota Malang atau didatangkan dari daerah sekitar. Dari pedagang, alasannya karena harga kulaknya tinggi. Sementara dari peternak, karena harga pakan masih tinggi," sebutnya.

Selain itu, ada beberapa komoditas penghambat inflasi yakni bawang putih, emas perhiasan, daging sapi, jeruk, pepaya, mentimun, terong panjang, parfum, tauge atau kecambah, serta melon. "Bawang putih turun banyak, sekitar 6,05 persen dengan andil 0,02 persen menghambat inflasi," tuturnya. 

Untuk inflasi tahunan, lanjut Dwi, penyumbang tertinggi dari biaya kontrak rumah. "Harga kost, kontrak atau sewa rumah itu kan biasanya sekali naik jarang turun lagi. Persentase perubahan harganya 6,9 persen dengan andil 0,32 persen. Juga harga bensin yang cukup fluktuatif, tercatat kenaikan sepanjang tahun sebesar 6,94 persen," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load