Foto kenangan tim PB Snake usai latihan (PB Snake for MalangTIMES)

Foto kenangan tim PB Snake usai latihan (PB Snake for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Tempat latihan adalah sarana penunjang yang sangat penting bagi sebuah klub bulu tangkis. Namun ada satu klub yang bernama PB Snake dan sempat memiliki atlet berprestasi namun pada awalnya mereka harus berpindah tempat latihan hingga lima kali sejak berdiri pada 2008 silam.

Perjuangan tidak kenal menyerah adalah kata yang tepat ditujukan untuk PB Snake. Betapa tidak, beberapa kali berganti lapangan latihan dan sempat pecah dengan rekannya satu klub, namun sang pendiri Ferry Avianto tetap mempertahankan klubnya hingga kini. Awal mendirikan, Ferry menggunakan gedung RW di wilayah Jalan Meliwis, Sukun, Kota Malang. 

Seiring berjalan waktu karena atlet yang semula hanya 10 orang akhirnya berpindah karena tempat latihan tidak memadai. PB Snake berpindah dari satu tempat ke tempat lain, karena saat itu jadwal sudah reguler dipesan orang lain. Sempat menggunakan gedung serbaguna RW. 6 Sukun, gedung Tuna Netra Janti, gedung pegadaian Jalan Halmahera, dan kini menetap di gedung Honda Kartika Sari di daerah Celaket, Lowokwaru. "Ya itu karena atlet yang terus bertambah, jadi kami harus punya tempat yang memadai, biar latihan maksimal," ujar Ferry. 

Prestasi yang didapat atlet PB Snake (PB Snake for MalangTIMES)

Saat dijumpai MalangTIMES di kediamannya Jalan Cangak No. 9, Sukun, Kota Malang, Ferry yang saat itu mengenakan kaos hitam dengan cincin dengan motif tengkorak bercerita bahwa PB Snake dulu sempat pecah dan beberapa rekannya ikut bergabung dengan PB Djagung. 

Akan tetapi, Ferry tidak ingin menceritakan lebih jauh apa yang menjadi permasalahan sehingga menimbulkan perpecahan. Yang jelas, ia tetap ingin menelurkan atlet dari PB Snake. "Dulu sebelum pecah, atlet ada sekitar 70an. Tapi sejak sudah saya sendiri itu cuma tinggal 40an hingga sekarang," ingatnya. Kini, 40 atlet dari PB Snake dilatih oleh 4 orang yakni Dani, Oni, Diah Novitasari dan Ricky SP. "Saya juga membantu melatih, setelah kerja langsung kesana," katanya. 

Berdiri sebagai tim kecil, PB Snake menggantungkan hidupnya dari iuran orang tua atlet per bulan nya untuk operasional latihan yang digelar empat hari dalam seminggu, yaitu Rabu, Jumat, Sabtu dan Minggu pukul 02.00-06.00 WIB. Untuk yang baru ingin belajar iuran per bulan sebesar Rp. 150.000, kemudian yang sudah bisa bermain Rp. 180.000 dan yang sudah mahir Rp. 200.000. "Tapi kami banyak sosialnya, seperti atlet anak kurang mampu tapi berprestasi tentu kami akan berikan keringanan," katanya. 

Prestasi yang didapat atlet PB Snake (PB Snake for MalangTIMES)

Meski mendapat iuran per bulan, Ferry mengaku bahwa ia tetap kesulitan jika atletnya ingin mengikuti kejuaraan di luar kota, karena harus membutuhkan dana cukup besar. "Jika ada kejuaraan di luar kota itu kami sangat berat, kalau menggunakan iuran per bulan nanti operasionalnya bagaimana," ungkapnya. 

Memang kendala dari PB Snake sendiri masih persoalan dana, namun siapa sangka Ferry telah membina beberapa atletnya yang dua diantaranya adalah anaknya yang meraih prestasi di berbagai ajang, beberapa diantaranya adalah Ricky Satria Perkasa, juara 1 di UM se Jawa Bali pada tahun 2017, Roby Rizaldi juara Badminton Yunior Cup se Jawa Bali di UIN pada tahun 2018 dan Nikmatul Rizky yang menjuarai Insersio se Jwa Bali di tahun 2018. "Ya Alhamdulillah, beberapa atlet pernah juara di beberapa kejuaraan, dan itu ada anak saya. Jadi salah satunya semangat saya tetap mempertahankan PB Snake ya karena yang berprestasi seperti ini, sayang kalau mereka tidak terus dibina," pungkasnya.

End of content

No more pages to load