MALANGTIMES - Sebagai lumbung pangan di Jawa Timur (Jatim) bahkan di tingkat nasional, Kabupaten Malang di tahun 2019 saatnya mengoptimalkan badan atau lembaga penelitian yang ada di wilayahnya.

Khususnya dalam memenuhi bibit pertanian unggul atau pun pola-pola pertanian yang bisa menggerek hasil produksi petani. 

Hal ini selain untuk meneguhkan konsep kedaulatan dan kemandirian pangan yang diusung Presiden Joko Widodo. 

Juga untuk membumikan hasil penelitian dari berbagai badan atau pun institusi penelitian yang ada di Kabupaten Malang. 

Seperti diketahui, pemerintah Kabupaten Malang memiliki Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), maupun lembaga penelitian di berbagai kampus ternama. 

Maka, saatnya badan dan institusi tersebut dirangkul, dioptimalkan dan diberi ruang dan porsi anggaran yang sesuai. 

Hasil penelitian mereka yang dijadikan percontohan dan dikembangkan di tingkat petani. 

Sehingga, impor bibit unggul dari negara lain, seperti China, misalnya tidak perlu dilakukan.

Lepas dari anggaran yang dipergunakan adalah dari pusat ataupun anggaran daerah. 

Seperti disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Malang HM Sanusi saat ditanya mengenai rencana penanaman padi unggul di wilayah Singosari dengan mendatangkan bibit unggul dari China. 

“Kita datangkan bibit padi unggulan dari China. Ini akan diujicobakan penanamannya di awal tahun ini. Bibit unggulan ini akan menghasilkan padi yang berlimpah. Bisa mencapai 15 ton per hektar,” kata Sanusi. 

Pernyataan Sanusi tersebut, berbanding terbalik dengan adanya goal dari pemerintah pusat mengenai penelitian dan pengembangan yang akan dijadikan panglima pembangunan di tingkat pemerintahan dalam berbagai inovasi. 

Dimana, Kemenristek Dikti menyatakan bahwa ada amanah bagi pemerintah untuk menggunakan hasil penelitian dari berbagai badan dan institusi dalam merancang berbagai program kerjanya. 

Hal ini pula yang kini sedang diupayakan penuh oleh Balitbangda Kabupaten Malang. 

Setelah mereka mampu menerapkan hasil penelitiannya di petani apel Poncokusumo atau pun dari beberapa inovasi yang telah menyabet penghargaan tertinggi tingkat nasional melalui aplikasi si Brilian besutan Nasri Abdul Wahid yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang. 

Didatangkannya hasil penelitian atau produk impor pertanian berupa bibit seperti yang disampaikan Sanusi tersebut dilakukan karena saat ini bibit padi yang dikembangkan hanya bisa menghasilkan padi 6-8 ton perhektarnya. 

”Saat ini per hektar, padi yang dihasilkan petani hanya 6 ton hingga 8 ton per hektar, " ujarnya. 

Persoalannya adalah benarkah badan atau institusi maupun kampus-kampus ternama di Malang tidak mampu melakukan penelitian dan pengembangan bibit unggul padi atau lainnya.

Sudah terujikah bibit-bibit unggul impor saat ditanam di bumi Arema?

Nasri Abdul Wahid menjawab persoalan tersebut dengan menyatakan persoalan di pertanian memang masih perlu adanya optimalisasi kualitas bibit. 

"Secara kuantitas kita surplus di beras, tapi memang di bibit kita perlu genjot lagi, " ujarnya beberapa waktu lalu. 

Disinggung mengenai bibit unggul pertanian impor, Nasri hanya menjawab bahwa dalam  hal benih memang masih belum  bisa mandiri. 

"Bisa dibilang masih belum mandiri.  Tahun ini makanya kita selain  fokus di kuantitas. Kita dorong petani juga  bisa optimalkan benih unggul lokal," ujarnya. 

Optimalisasi badan,  institusi penelitian dan pengembangan tentunya perlu didukung dengan kebijakan anggaran yang memadai. 

Tanpa adanya anggaran penelitian yang menjadi rahasia umum setiap tahun terbilang minim dari daerah. Maka sektor apapun di bumi Arema akan selalu tergantung pada pembelian atau impor luar negeri.