Alsintan yang akan diserahkan kepada gapoktan. Disinyalir bantuan tidak dipakai pihak DTPHP Kabupaten Malang akan melakukan inventarisir dan menariknya lagi (Nana)
Alsintan yang akan diserahkan kepada gapoktan. Disinyalir bantuan tidak dipakai pihak DTPHP Kabupaten Malang akan melakukan inventarisir dan menariknya lagi (Nana)

MALANGTIMES - Dinas Pertanian atau yang kini dikenal sebagai Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, kembali melakukan inventarisir bantuan alat mesin pertanian (alsintan) di akhir tahun 2018 ini.

Inventarisir alsintan yang diberikan kepada gabungan kelompok petani (gapoktan) di Kabupaten Malang disinyalir dengan adanya beberapa informasi terkait tidak terpakainya alat pertanian tersebut. 

Sehingga, mengakibatkan alsintan dari pemerintah untuk membantu para petani meningkatkan produktivitas, tidak berfungsi di gapoktan penerima bantuan. 

Hal inilah yang membuat DTPHP Kabupaten Malang kembali melakukan inventarisir. 

Baik kepada penerima manfaat alsintan maupun persoalan di lapangan terkait tidak dipakainya alat tersebut. 

"Ini kita kembali inventarisir tentang itu. Jangan sampai tujuan baik pemerintah di lapangan ternyata tidak ada manfaatnya," kata Budiar Kepala DTPHP Kabupaten Malang,  menyesalkan kondisi tersebut, Senin (31/12/2018) kepada MalangTIMES. 

Tidak dipakainya alsintan yang bisa membantu para petani mengolah lahan pertaniannya, masih menurut Budiar yang saat ini sedang dicoba untuk dilihat duduk persoalannya. 

Sehingga di tahun depan, pihaknya saat akan melakukan penyerahan bantuan alsintan tidak lagi terjadi persoalan seperti tersebut. 

"Kita inventarisir benar dimana persoalannya. Sehingga kita bisa mengambil kebijakan tepat. Di lapangan kita coba croscek juga. Jangan sampai bantuan itu tidak bermanfaat setelah diserahkan," ujar Budiar yang juga secara tegas menyatakan, pihaknya tidak main-main dengan persoalan tersebut. 

Dari beberapa informasi di lapangan, persoalan bantuan alsintan ke gapoktan memang cukup sulit terdeteksi. 

Dalam artian pemakaian atau penggunaannya setelah diserahkan oleh pihak DTPHP Kabupaten Malang. Tapi, dari informasi tersebut terdapat benang merah yang bisa ditarik. Yakni, gapoktan penerima bantuan alsintan merasa tidak sesuai dengan alat tersebut. 

"Kita butuhnya alat ini. Tapi dapatnya alat yang lain. Jadinya bantuan tersebut tidak dipakai. Alatnya ada kita simpan," ujar salah satu ketua gapoktan yang tidak bersedia disebut namanya.

Saat disinggung mengenai alasan tersebut, Budiar secara tegas menyampaikan teknis bantuan alsintan yang berasal dari gapoktan itu sendiri. 

"Bantuan ada dikarenakan gapoktan yang meminta melalui proposal. Kita yang melakukan verifikasi di lapangan dan mengajukan bantuan tersebut," ujarnya. 

Dirinya melanjutkan, jadi apabila setelah bantuan alsintan diserahkan, ternyata tidak dipakai oleh penerima. 

"Persoalannya ada pada proses pengajuan bantuan sejak awal. Karena itu kita inventarisir ini," imbuh Budiar. 

Bantuan alsintan setiap tahunnya dikucurkan secara terbatas kepada gapoktan. Sehingga terjadinya persoalan bantuan tidak dipakai, tentunya sangat merugikan gapoktan lainnya yang belum bisa mengaksesnya. 

Kondisi tersebut yang di tahun 2019 datang, melalui inventarisir pihak DTPHP Kabupaten Malang akan dilakukan penertiban. 

Budiar menjelaskan, apabila alsintan tidak terpakai seharusnya bisa dioper atau dialihkan ke gapoktan lainnya. 

"Itu bisa dilakukan dengan cara membuat berita acara. Sehingga alsintan bisa bermanfaat bagi petani," ucapnya. 

Disinggung penarikan dan jumlah bantuan alsintan yang tidak dipakai di gapoktan, Budiar belum bisa menyampaikannya secara rinci.

"Belum. Ini makanya kita inventarisir benar. Apabila itu memang terjadi bisa kita tarik lagi untuk dilakukan penyerahan kepada gapoktan lainnya yang membutuhkan," pungkasnya.