Lukisan foto Moedjair penemu ikan mujair (Ist)
Lukisan foto Moedjair penemu ikan mujair (Ist)

MALANGTIMES - Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa ikan mujair yang kerap disantapnya memiliki sejarah panjang. 

Sejarah mengenai keberadaan ikan mujair yang tentu tidak asing lagi saat ini, baik sebagai lauk pauk maupun sebagai hewan air tawar yang dibudidayakan cukup panjang. Bahkan, usia mengenai ikan mujair tersebut sudah mencapai usia 82 tahun sampai tahun ini.

Usia yang terbilang tua tersebut dimulai dengan cerita seorang Moedjair. Sosok penemu ikan mujair yang kita kenal sampai saat ini. Moedjair yang dilahirkan di Desa Kuningan, Blitar, tahun 1890  dengan nama  asli Iwan Dalauk inilah penemu ikan Tilapia Mossambica, yang berasal dari Afrika. 

Moedjair terpesona dengan perilaku ikan asli dari Afrika tersebut. Itu tahun 1936 saat dirinya sedang menangkap ikan di Teluk Serang yang terletak di laut selatan. Di sana,  dirinya menemukan berbagai jenis ikan yang belum diketahui sebelumnya. Salah satunya jenis ikan dengan perilaku yang unik. Dimana induk ikan menelan anak-anaknya, lantas memuntahkannya kembali. 

Moedjair terpesona melihat perilaku ikan tersebut. Akhirnya, dirinya menangkap ikan tak dikenalnya tersebut untuk dipelihara.  Beserta beberapa jenis ikan lainnya yang juga dianggapnya unik. Dirinya pun memelihara ikan-ikan tersebut di kolam pekarangan rumahnya. 

Ternyata dari beberapa jenis ikan yang ditangkapnya tersebut, hanya ikan dengan perilaku unik yaitu yang memakan anak-anaknya lantas dimuntahkan lagi yang berkembang pesat. 


Moedjair semakin terpesona saat melihat betapa perilaku ikan tersebut saat bertelur dan menyimpannya di dalam mulut hingga masa menetas jadi anak ikan. Seiring waktu, ikan ini pun mendapat perhatian warga desa. Tentunya, perhatian warga tersebut setelah Moedjair melakukan berbagai eksperimen terhadap ikan pemakan anaknya saat sang induk merasakan ancaman terhadapnya. Lantas, setelah dirasa ancaman tidak ada sang induk ikan memuntahkan anaknya yang berada di mulutnya tersebut dalam kondisi hidup. 

Tercatat, anak dari pasangan Bayan Isman dan Rubiyah ini telah 11 kali melakukan eksperimen terhadap ikan yang belum memiliki nama tersebut. Baik, eksperimen habitat sampai pada pola pengembangbiakannya, dari berbagai eksperimen tersebut. 

Keberhasilan tersebut membuat Kepala Penyuluhan Perikanan di Jawa Timur, Schuster tertarik dan berkunjung ke Papungan tempat Moedjair berdomisili. Schuster pun meneliti ikan yang dikembangbiakkan oleh Moedjair. Ikan tersebut diidentifikasi sebagai Tilapia Mossambica, yang berasal dari Afrika oleh Schuster. Dengan cepat ikan temuan Mudjair dibudidayakan karena cepat bertelur, pertumbuhannya cepat, dan mudah beradaptasi dengan segala lingkungan air mulai kolam hingga rawa-rawa.

Temuan Moedjair tersebut diangkat oleh Schuster pada November 1939 dalam Konferensi Ahli-ahli Perikanan Darat. Seperti yang disampaikan oleh  K. F. Vaas dan A. E. Hofstede dalam Studies on Tilapia Mossambica Peters (ikan Mudjair) in Indonesia.  Dari konferensi tersebut, ikan temuan Moedjair pun diberi nama lokal dengan sebutan ikan mujair. 

Jasa Moedjair pun diganjar atas temuan dan ketekunannya dalam melakukan eksperimen atas ikan yang memiliki perilaku melindungi anak-anaknya dengan cara menelannya. Moedjair mendapat santunan di tahun tersebut sebesar Rp 6 per bulan, seperti yang dicatat dalam harian Pedoman edisi 27 Agustus 1951. 

Temuan Moedjair terus dimasifkan dan dirasakan manfaatnya setelah Belanda digeser oleh kependudukan Jepang. Ikan Mujair kian populer di zaman pendudukan Jepang. Bahkan, dalam buku Tilapia: Biology, Culture, and Nutrition suntingan Carl D. Webster dan Chhorn Lim, ikan mujair dibawa dan dikembangbiakkan  ke seluruh daerah dalam tambak-tambak. 

Moedjair pun kembali diganjar penghargaan, yaitu dengan diangkat sebagai pegawai negeri tanpa harus mendapatkan beban kerja. Hingga Indonesia merdeka sekitar enam tahun, pemerintah Indonesia mengganjar jasanya melalui Kementerian Pertanian atas jasanya sebagai penemu dan perintis perkembangan ikan mujair. Serta penghargaan Internasional diterima Moedjair dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik tahun 1953.

Moedjair meninggal tahun 1957 karena sakit asma, dan dikuburkan di Blitar.