MALANGTIMES - br>Kuburan Umur
*dd nana
1/
Hidup serupa cerita. Kita telah mengada sebelum beraga.
Sampai kita mengenal angka dan cerita-cerita yang diberangus 
almanak dan tik tok bandul jarum waktu yang aus.

Sampai kita mengenal cara meracik sepi di cawan raga dan membandel dengan jalan cerita yang telah lama dituliskan 
dalam kepala sutradara.

“Akulah Colombus sang penemu. Akulah Malin Kundang yang dikutuk cerita.
Aku pembuka jalan sebelum kisah menarikku paksa menjadi sisipus 
yang dirantai dan jelma teratai yang membutakan mata Ikarus dan membius narsicus.”

Almanak bergeming. Diam bersama waktu yang kata mereka berjalan melingkar-lingkar.
Di mataku, waktu serupa siput dalam cerita film Turbo. Minus, jiwa liar 
yang menghentak-hentak dan berderit serupa tangisan pedang 
yang lama terkurung murung.

Almanak melipat-lipat segala yang lindap dan runcing. Tepat di depan mata lamurku
yang selalu kabur dan menceburkan dirinya pada setiap palagan. Yang mengikis umur
yang menggenapkan nyeri dan membiaskan peluh dan air mata. 
Mematangkan mata dan menjernihkan cahaya dalam peristiwa.

“Sungguh, setiap lipatan almanak, serupa belati yang menusuk rusuk,”.

Tapi, sang sutradara telah berkehendak. Cerita telah lama dituliskan dan kita
telah ada sebelum beraga dan menjadi tokoh-tokoh yang harus bertarung
menghadapi liat peristiwa, sembab air mata, hangat pelukan dan darah yang diceraikan
dari rumahnya. Nafas kita selembar demi selembar dihabiskan waktu. Dan almanak menyimpannya
dengan jemari para pembunuh berdarah dingin.

Melipatnya dengan tenang dan menisankan kita sebagai angka-angka.
Sebelum rahimnya kembali melahirkan kisah dan tokoh yang hampir serupa.

“Semua ada tepi-nya. Sedang tunas wajib tumbuh dan merasakan dataran alinea.”

Kita akhirnya menggigil pada pagina yang belum dibaca.


2/
Digalinya sedalam mungkin sepasang mata 
yang dimilikinya itu.
Mata yang membuat begitu banyak manusia cemas
dengan berbagai bisik-bisik yang menjengahkannya.
Mata yang entah dibuat melalui proses kimia atau do’a yang seperti apa
Kitab-kitab berdiam dalam rumahnya dan tak menjawab.

Mata Iblis. Mata Malaikat. Mata Mati. Mata-Mata.

Mata Mati. Dia berteriak sambil mengayunkan cangkul yang gemetar
lelah mencabik lapisan demi lapisan berwarna malam di sepasang mata itu.
Tak ditemukannya dasar. Tak ada ajimat atau pun benda-benda asing
yang membuat sepasang mata itu begitu hidup. Menyala-nyala nyalang
meredup-redup serupa senja.

Pada matamu aku jatuh cinta. Pada matamu cerita-cerita bergetar dan akhirnya
pecah menuju ruang-ruang yang dibenci pengarang. Pada mata Iblis-mu yang malaikat
aku melihat surge yang dicatat oleh kitab-kitab.

Mata Mati. Dirinya bersikeras menggali lebih dalam. 
Mata-Mata itu bergeming dan terus memujanya dengan segala 
ritual yang tak pernah kau baca dalam segala cerita.

“Hidup bukan hanya yang terlihat mata, sayang. Jadi biarkan saja mata itu adanya.”

Seperti cerita yang dilisankan. Serupa adam yang masih berkeliaran mencari cintanya.

Lelaki itu terus saja menggali sepasang matanya. Sampai jari almanak menutup
satu persatu raganya. “Sudah hampir tepi, tuan. Istirahatlah atau mati.”

Mata Mati. Tapi bisikan dan suara terus merayunya.